"Melakukan sepenuh hati", sebuah kalimat yang menggetarkan yang aku tangkap hari ini. Jadi penasaran seberapa sering saya bertindak dengan sepenuh hati. Kalau nyatanya saya masuk golongan yang sering bertindak sepenuh hati, maka amatlah bermanfaat jika mengetahui dan membagi kiat untuk bisa bertindak sepenuh hati. Sebaliknya jika ternyata kita adalah golongan yang jarang bertindak sepenuh maka juga penting mengungkapkannya pada orang lain, agar orang lain dan kita bisa saling mengingatkan.
Apa yang membuat saya bertindak sepenuh hati ? Karena antisipasi akan reward yang saya akan saya dapat ? Atau justru tindakan itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang rewarding. Tindakan sepenuh hati yang didorong oleh harapan mendapatkan imbalan bukan sebuah dosa. Kita manusia biasa yang masih doyan imbalan. Lalu bagaimana jika ternyata setelah bertindak sepuh hati, sudah bersungguh-sungguh lalu kita tidak mendapatkan imbalan yang diharapkan ? Misalnya ada orang lain yang ingkar janji atau majikan yang lari tak mau bayar ?
Atas hal itu wajar jika kita kecewa dan kapok : tak akan lagi mau bertindak sepenuh hati ! Lalu jika kemudian kita bertindak setengah-setengah, tentu sudah amat jelas konsekuensi yang pasti kita terima. Hasil yang kita peroleh, buah karya yang dihasilkan tentu bukan buah daya cipta terbaik. Lalu dengan karya yang setengah-setengah, layakkah kita meminta imbalan terbaik ?
Bingung ? Silahkan dan bisa jadi.
Yang pasti tindakan sepenuh hati memang belum tentu mendatangkan imbalan terbaik, namun kerja setengah hati pasti menegaskan rendahnya kualitas kita
Pilih yang mana ?
