Manusiawi, jika saya dan Anda butuh diapresiasi. Manusiawi juga kalau ada orang yang lupa mengapresiasi Anda dan saya. Toh, mereka manusia juga dengan hak penuhnya untuk lupa.
Persoalannya jadi sedikit kompleks ketika harapan kita akan bentuk apresiasi tidak sama seperti yang kita dapatkan. Orang lain terpuaskan dengan senyum dan ucapan terima kasih. Atasan tertentu senang mengapresiasi dengan tepukan di pundak bawahan. Sementara saya mungkin tak butuh itu lagi. Pada titik tertentu penghargaan yang saya butuhkan mungkin dalam rupa yang berbeda.
Maaf saya tak merasa aneh dan perlu diperlakukan khusus. Acuan saya dan idealnya banyak pihak adalah aturan main yang ada. Dalam konteks perusahaan, strategi mengapresiasi bisa tercermin dari sistem reward & punishment yang di bangun. Jika sistemnya kuat maka kita jarang mendengar kecemburuan satu kawan terhadap yang lain : "Sialan gaji gue jauh di bawah dia yang jabatannya di bawah gue !" ; "Gak adil nih, apa iya perusahaan asing ini membayar orang dari senioritas doang ?!" ; " Katanya menghargai kinerja unggul, nyatanya gaji gue malah di-freeze !"
AKan ada banyak keluhan yang bisa kita daftar. Begitu juga akan muncul banyak argumen yang bisa jadi tandingan. Tak sedikit juga oknum di perusahaan yang memang tidak ngerti soal macam ini. Sebagian lagi sengaja tutup mata, lebih pentingjkan kursi dan raport pribadi. Dan pihak yang merasa jadi korban pada satu titik perlu memaklumi : kesalahan, kebodohan dan ketidak mau tahuan adalah soal yang juga manusiawi.
Tapi untuk Anda yang merasa jadi korban : PASTI ADA PILIHAN LAIN
