
Tuesday, January 13, 2009
(PERLAWANAN)
Seorang karyawan kecil tak mau mengajukan surat pengunduran diri. “ Silahkan PHK saya saja, Pak !”, katanya. Sungguh sebuah perlawanan orang kecil, namun sejatinya bukan usaha kecil. Ini sebuah gerakan bermakna. Dan asal tahu saja, dengan cara seperti ini uang pisah yang akan ia dapat mungkin jauh lebih besar. Boleh juga, apa pun motifnya !
(SAMPAI KAPAN)
Sampai kapan saya akan menulis ? Ini pertanyaan besar malam ini. Saya tak tahu, walau satu bagian diri saya bertekad terus menulis. Saya tak tahu, karena pertanyaan macam ini akan kembali muncul di lain hari.
(LATAH 2)
Saya coba memahami perilaku sekedar berbeda itu sebagai bentuk upaya manusia dalam menegaskan keberadaannya. Semua kita mungkin punya dorongan instingtif untuk dikenal. Agar dikenal harus ada bekas jejak ditinggalkan, walau bentuknya tak harus sesuatu yang baru.
(LATAH)
Saya pernah malu melihat kelakuan sebagian dari kita, terutama contoh dari orang ternama. Tak sedikit yang sibuk membuat sesuatu yang mereka pikir sebagai hal baru. Padahal sejatinya hanya sekedar ganti kulit. Itu dulu saat saya belum merasakan pergaulan di perusahaan asing. Kini setelah ikut mencicipi atmosfir mereka, nyatanya sama saja. Tak jarang sekedar ganti baju, tanpa perubahan esensial. Itu dilakukan atas nama menegaskan eksistensi. Sebuah eksistensi tanpa esensi. Saya tak perlu malu lagi jadi orang Indonesia, walau tak harus setuju pada pendekatan di atas
(KABUR)
Belakangan saya makin dikaburkan oleh banyak pandangan di sekitar saya. Buat saya makin banyak orang tidak mampu membedakan antara hal yang prinsip dan ruang fleksibilitas. Pendek kata semua ingin dibuat fleksibel hingga bisa menghapus yang prinsip !
(SIAP LAGI)
Begitu banyaknya perubahan, begitu cepatnya kita dilempar dari satu keadaan ke keadaan lain mengirim sinyal soal kesiapan kita. Seberapa siap saya dan Anda menghadapi perubahan yang mengejutkan ? Melihat dan membaca banyak karyawan dan kawan kena PHK, saya kecut membayangkan hal ini. Kerja besar masih banyak !
(PHK)
Kepada pada ahli bahasa, penulis, kritikus sastra, saya hanya ingin mengingatkan bahwa PHK alias pemutusan hubungan kerja sudah punya banyak kata penggantinya lho, semisal : pengunduran diri, alasan pribadi, berkarir di tempat lain, ingin usaha sendiri dan akan menyusul kata lainnya.
(BAWAHAN)
Kalau mengingat bahwa atasan seakan punya banyak kekuasaan tak berbatas, kadang saya kasihan pada bawahan. Banyak bawahan kadang merasa tak berdaya. ”Anda jadi atasan, makanya Anda bisa ngomong apa saja”, begitu mungkin salah satu yang dipikirkan oleh bawahan. Namun benarkah bawahan begitu tak punya daya ?
(ATASAN)
Jadi atasan kadang berarti harus punya keberanian menyakiti anak buah. Atasa mungkin bisa berlindung di balik atasannya lagi atau aturan perusahaan. Namun tetap saja, ketika orang lain kecewa dan sakit hati, maka buat saya itu berarti kesiapan atasan untuk menyakiti bawahan. Anda mungkin berpikir tentang kata lain yang lebih halus ?
(LOW PROFILE)
Ada banyak nasihat aku dengar belakangan ini. Salah satunya adalah anjuran untuk tidak terlalu low profile. ”Anda harus lebih berani tampil, dan jangan hanya ada behind the screen aja !”, begitu salah satu masukan untuk saya. Hmmm, sebuah pesan yang terus saya olah dan hayati. Soal bagaimana keputusan dan tindakan saya berikutnya, lihat saja nanti
(JELAS)
Kalau Anda melihat bahwa X berbuat tidak bijak pada Y, ada baiknya Anda melakukan paling tidak dua hal. Terhadap X tegaskan ketidak setujuan dan umpan balik Anda. Terhadap Y, tegaskan posisi Anda terhadap tindakan X.
(TEGA)
Ada sejumlah peran yang kadang memaksa seseorang, Anda atau saya untuk melakukan tindakan yang di mata banyak orang terbilang tidak berperikemanusiaan. Anda bisa saja dituduh terlalu tega melakukan sesuatu. Bahkan ketika diukur dengan sudut pandang umum, bisa teramat jelas bahwa Anda memang benar-benar “tegaan”. Pada saat yang lain ada sebuah kekuatan, yang bisa jadi bernama “kebijakan”, yang harus Anda jalankan. Siapkah Anda untuk jadi “tega” ?
(SMALL GOOD)
Saya pikir, setiap kita tentu memliki banyak kesempatan / godaan untuk melakukan perbuatan yang bisa masuk kategori “grey area”. Mungkin saja hal ini tidak masuk dalam kategori dosa. Namun, kita memang perlu sebuah keberanian menetapkan standar bagi diri sendiri, lalu bertahan terus melakukan perbuatan kecil sebanyak mungkin. Dan itu adalah sebuah latihan agar kita semakin kuat menghadapi godaan yang lebih besar.
(KEJUTAN)
Sampai dua hari lalu, saya dan dia masih tertawa. Kami ada liburan bersama. Hari ini saya dapat kabar tak mengenakan. Sangat wajar jika ia kecewa, marah di tengah keterkejutannya. Jeda satu hari bisa membawa banyak perbedaan. Ini jadi kesempatan baik untuk saya mempertanyakan kesiapan saya akan perubahan yang demikian besar. Harus ada program khusus menguatkan satu jenis syaraf yang berhubungan dengan kemampuan menghadapi keterkejutan.
(INFLASI)
Inflasi jadi kata biasa dalam terminologi ekonomi. Ia mengait pada turunnya daya beli, turunnya nilai uang kita. Bagaimana dengan perspektif psikologis ? Saya pikir inflasi juga bisa menimpa kemampuan kita menghadapi situasi hari ini. Saya harus mengkaji kembali seberapa kuat daya jual psikologis saya, seberapa kuat kompetensi saya dalam menghadapi kenyataan hari ini. Jangan sampai inflasi mengenai NILAI kita.
