Menjelang tutup tahun beberapa waktu lalu, jelas ada pesta di mana-mana. Tak saja di wilayah yang memang biasa jadi tempat dugem dan party, di sekitar tempat tinggalku juga ada rancangan pesta sejenis. Saya dan keluarga pun kemudian menjadi berkepentingan dengan pesta dimaksud. Bukan karena kami suka party macam itu. Bukan. Kami bukan jenis orang macam itu. Walau masih masuk kategori individu yang bisa menikmati keramaian, namun kami tak terlalu ngotot untuk bisa melewati pergantian tahun dengan party tutup tahun. Kami berkepentingan, karena pesta tersebut berada tepat di muka rumah kami.
Rumah kami ada di hook, sebuah tempat yang sering diincar banyak orang, karena biasanya tanahnya lebih luas. Kami juga beruntung karena di hook tersebut, rumah kami menjadi salag satu dari sekitar 9 rumah yang menghadap tepat ke sebuah tempat, yang kemudian dikenal sebagai Balai Warga. Di Balai Warga ada sebuah lapangan yang ukurannya sedikit lebih besar dari lapangan bulu tangkis, yang bila pagi hari sering di pakai senam oleh para senior di tempat kami, alias para manula. Di salah satu ujungnya di arah Selatan ada sebuah pendopo, yang biasa dipakai nongkrong atau rapat RW.
Nah pesta tutup tahun akan dilaksanakan di sana.
Tentu senang, berada dekat tempat yang sering ramai semisal Balai Warga itu. Terutama karena di sana mangkal juga petugas security. Praktis rumah kami memiliki petugas security khusus yang nongkrong 24 jam. Itu bright side-nya. Tapi kita memang harus selalu siap dengan sisi gelap yang melekat. There are two faces from one coin. Ada dua wajah dalam satu keping uang logam bukan ?
Khusus terkait dengan pesta yang saya maksud di atas, sisi gelap yang jadi konsekuensi langsungnya adalah menghadapi hingar binger yang ada, terutama persiapan pestanya. Bukankah persiapan sering kali lebih heboh ketimbang acara intinya. Pesta inti saya bayangkan akan memakan waktu beberapa jam saja. Paling mulai jam 8 malam dan selesai saat jam menunjuk angka 1 januari 2009, yang akan disambut dengan teriakan terompet dan petasan serta kembang api.
Dan benar saja, bahkan nyaris 1 minggu sebelum hari H, kami terpaksa berdamai dengan suara bising. Dari balita yang berlatih fashion show diiringi degum suara keras menghantam telinga, lalu remaja yang berulang kali berlatih band sampai manula yang asyik berkaraoke. Layar besar sudah disiapkan hingga asyik untuk karaoke bersama. Soal berisik dan mungkin mengganggu tentu tak ada dalam kepala orang yang sedang asyik.
Kami, penghuni dewasa dalam rumah sungguh terganggu dengan berisik yang ada. Untung anak-anak tak rewel. Hingga masih bisa tidur di jam normal mereka. Saya tak tahu dengan tetangga lain, apakah mereka menjadi sesenewen kami ? Saya juga tak tahu apakah ada jenis kejengkelan lain yang mampu mereka kendalikan atas nama kerukunan hidup bertetangga.
Dan memang atas nama kerukunan bertetangga itulah kami menahan diri bahkan untuk tidak mengingatkan panitia bahwa kami terganggu juga. Maka atas nama campuran antara memaklumi dan pasrah, kami coba nikmati sambil terus menghibur diri : semoga pesta cepat selesai !
Maka kami bersyukur ketika kemudian hari H dengan cepat berlalu. Malam itu bahkan kami masih bisa nyenyak tidur, walau pada awalnya mata sulit dipejam, karena telingan dihantam suara keras dari lapangan tempat pesta berlangsung.
Sesudah Pesta Selesai
Di pagi 1 Januari 2009, Saya menengok bekas pesta berlangsung. Bangku-bangku sebagian berserakan. Yang lainnya mulai dilipat. Nyaris tak ada lagi orang berkumpul di sana. Hanya ada petugas security yang mungkin masih kelelahan. Warga lain mungkin masih letih dan tidur nyenyak. Buatku, seakan tak beda dengan hari lain. Semua seakan biasa kembali, kembali seperti hari-hari lain.
Lalu bagaimana dengan pesta tadi malam ? Saya tak tahu siapa yang peduli lagi dengan pasti malam itu. Mungkin pesta macam itu tak lebih dari acara biasa, rutinitas dari sebuah tradisi yang tanpa makna selain sekedar melepas katup emosi yang lama terkunci. Semoga saya salah akan hal ini. Benar, saya tak merasakan ada yang beda dengan hari sebelumnya. Perlahan Saya mempertanyakan gema pesta itu. Dalam hening batin, Saya mempersoalkan makna kejadian macam itu.
Pesta di manapun penuh hingar bingar di permukaan. Yang senang dengannya memang bisa bersenang-senang. Secara kasat mata ada tawa, teriakan bahkan hysteria. Namun bagaimana dengan dunia dalam, dunia batin kita ?
Pesta di manapun akan ada batasnya. Sepanjang dan semeriah apapun itu. Semegah dan semewah apapun itu. Ia pasti ada batasnya. Pesta pasti akan selesai. Pertanyaan besar yang kemudian Saya lontarkan pada diri sendiri adalah mau apa sesudah ini semua ? Sesudah pesta selesai, apa yang mau Saya lakukan ?
Kalau atas nama menyambut tahun baru pesta itu digelar, maka apa sesungguhnya sambutan kita terhadap tahun baru itu ? Kalau atas nama menyambut tahun baru, apa yang istimewa yang sesungguhnya hendak kita lakukan di tahun yang baru ? Kalau sekedar pesta, pesta pasti kan usai.
Pesta pasti kan usai, namun kerja keras bahkan belum dimulai. Pesta kasat mata pasti akan usai, namun kerja batin mungkin belum juga kita rangkai. Pesta memang harus segera diselesaikan, karena hari di depan tak kemudian jadi jinak oleh persembahan macam itu. Hari di depan sana tetap saja liar dan keras. Tantangan di tahun baru tak akan menyurut. Bukankah kegetiran hidup keseharian kita sudah memberi tanda ? Semakin banyak orang yang mengeluhkan masa kini. Tak sedikit ingin kembali ke masa lalu. Bahkan yang paling kritispun tergoda memuja kembali orde dan ode lama. Bahkan demonstran yang paling keras pun tak sedikit coba menghidupkan roh masa lalu.
Dan diujung pesta saya tersadar : saya semestinya tak perlu terganggu oleh pesta macam itu. Pesta macam itu pasti akan usai. Saya tak semestinya risau akan bising pesta macam itu. Saya mestinya justru harus terganggu oleh ketidak siapan saya menyambut hari esok.
Pesta pasti usai, namun kerja kita mungkin baru akan mulai
Cimanggis – 4 Jan 09
