
(Prolog)
MIND MUNCHIES. Munchies : snacks or small items of food. Saya teringat ucapan seorang ahli yang menyebut mind munchies. Munchies adalah makanan kecil alias snack alias penganan yang beraneka. Jadi saya bayangkan dalam satu kantong ada macam-macam di sana. Makanan ringan dengan banyak jenis dan bentuknya. Nah coretan yang ini mungkin bisa disetarakan dengan makanan ringan macam itu. Isinya macam-macam dan pendek-pendek saja. Bedanya, yang ini makanan ringan buat otak kita. Selamat menikmati mind munchies.
(I)
Pagi tadi, saat subuh di masjid, aku sempat terkejut ketika sang imam membaca qunut. Biasanya tak ada qunut di subuh kami. Aku mungkin tak khusuk karena tergoda mencari tahu sebab perubahan ini. Dengan cepat aku menemukan alasannya : Palestina. Ya benar Palestina. Dan benar saja, dalam qunutnya ada doa khusus untuk saudara di Palestina. Aku tak sadar, bayangan apa yang menyelinap masuk dan hadir di hadapanku. Aku terpejam. Tak sadar air mata menggenang.
(II)
Pada akhirnya ukuran sebenarnya adalah pencapaian. Masih soal menulis dan manfaatnya. Masih terkait manfaat menulis dalam kehidupan, khususnya saat dihubungkan dengan pencapaian kita. Aku sering risau, khawatir hanya bisa bicara. Banyak menulis adalah banyak bicara juga. Lalu ngeri saat sadar tak banyak yang aku capai. Tantanganku adalah memperbanyak menulis dan menjadi pelaku bagi banyak pencapaian. Walau memang banyak menulis bisa menjadi salah satu pencapaian yang aku ingin kejar
(III)
Selamat Tahun Baru. Dua-duanya ya Pak, Hijriah dan Masehi. Begitu kata sebagian kawan sekantor yang mampir ke ruanganku. Aktivitas pagi ini diwarnai oleh silaturahmi kecil saling memberi selamat. Jelas, aku pasti menjawab, membalas ucapan selamat itu. Membalas dengan ucapan senada. Tapi ada Tanya tersisa : SELAMAT untuk apa ya ? Jawabannya bisa beragam. Atau sangat mungkin tak ada yang tahu alasan detilnya. Semoga bukan sekedar ucapan selamat dan ikut gembira karena sudah bertemu 2009. Semoga lebih dari itu, semoga kita semua selamat menjalani 2009, selamat dan sukses atas kinerja di 2009, selamat dan bahagia atas raihan di 2009. Amien
(IV)
Tak ada salahnya menyalahkan diri sendiri. Walau mungkin banyak ahli menyalahkan cara ini. Aku harus berani menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab dari banyak kesalahan dan kegagalan di hari lalu. Ini makin relevan ketika 2009 baru mulai. Aku menyalahkan diri ku yang jadi penyebab kegagalan. Namun aku juga pemaaf, aku maafkan semua kesalahanku, sambil bertekad memperbaiki diri tak mengulang kesalahan 2008. Aku salahkan diriku, lalu memaafkan dan cari siasat untuk lebih baik, berubah menjadi lebih baik untuk hasil lebih baik.
(V)
Kita sering lupa bahwa ada banyak peran melekat dalam diri kita. Di kantor, selain sebagai karyawan, kadang kita sekaligus sebagai atasan, sebagai leader. Dengan demikian tindakan kita sudah semestinya mempertimbangkan berbagai peran itu. Contoh lain : Sebagai manusia biasa, pramugari juga punya rasa takut saat ada masalah di udara. Namun peran nya sebagai pramugari harus juga menenangkan penumpang, sambil tentu mencari solusi menyelesaikan masalah. Tak patut rasanya jika kemudian pramugari menjadi yang paling heboh dan panik
(VI)
Kadang, busuk dalam hati masih saja belum bisa dibuang jauh. Kotoran dalam jiwa kadang masih butuh waktu panjang untuk dibuang hilang. Salah satu yang mungkin masih muncul adalah nyinyir atas prestasi orang lain. Anda bisa jadi menganggap karya besar orang lain adalah hal sederhana. ”Ah kalau Cuma begitu saja, saya juga bisa !” ; ” Di mana hebatnya karya itu ?!”. Itu sebagian contoh ekspresi dengki kita. Walau hanya membatin dan tak terucap, namun tak terelakan itu adalah gambar betapa kita belum bersih hati. Bertambah konyol karena ternyata kita lebih sering memilih nyinyir, iri dan dengki ketimbang berkarya. Kalau memang gampang dan mudah buat kita mana bukti karya kita ?. Ah, aku mungkin masih salah satu dari jenis orang macam itu
(VII)
Kemarahan memang bisa menutup banyak pintu, termasuk pintu penghargaan. Kemarahan saya pada seseorang bisa membuat saya menutup pintu apresiasi saya pada prestasinya. Kemarahan saya pada menutup pintu, bahkan pintu kemajuan diri saya. Karena saya tak ikhlas memberi apresiasi, saya bisa buta atas kelebihan orang lain, yang sebenarnya bisa jadi sumber belajar dan pengembangan diri saya. Kemarahan menutup banyak pintu, dan memang membutakan
(VIII)
Jika ada kawan Anda yang sering berujar negatif, nyinyir dan sinis, layak kiranya Anda bertanya lebih jauh. Ada apa gerangan ? Apa yang membuatnya sedemikian negatif ? Bahkan semua seakan buruk di matanya. Ingin pada satu hari kelak aku bertanya pada kawan jenis ini : apa yang membuatnya sedemikian marah ? Ketika bicara kemarahan, aku duga ada kepentingan pribadinya yang tak terpuaskan. Karena tak mendapatkan hal positif, maka ia menumpahkan semua negatif ke semesta.
(IX)
Apakah sungguh inspirasi yang kita butuhkan ? Pertanyaan ini aku ajukan saat sadar bahwa sudah teramat banyak aku mengaku terinspirasi. Sudah terlalu sering aku menemukan dan menghayati sebuah pencerahan. Tak sedikit tulisan yang aku buat yang semoga meng-inspirasi kawan-kawan di luar sana. Tapi apakah benar, inspirasi yang sungguh kita butuhkan ? Barangkali ini ada hubungannya dengan pencapaian. Ukurannya adalah pencapaian, prestasi, kinerja, output. Kalau sekedar mendapatkan inspirasi, sudah penuh dunia ini dengan inspirasi. Inspirasi saja jelas tak cukup. Bahkan inspirasi tentang kiat dan langkah sukses dari tokoh yang kita anggap paling sukses sekalipun. Prestasi tak mendatangi kita. Kita yang harus bergerak, bertindak untuk mendekati sasaran itu. Jadi seusai terinspirasi mari ayunkan langkah dan berlari mengukir prestasi.
(X)
Fear of success. Ketakutan menjadi sukses. Kengerian akan konsekuensi atas keberhasilan kita. Ini konsep lama yang saya dapat saat ikutan berguru di kampus dulu. Belakangan saya teringat lagi terutama ketika mengaitkannya dengan kejadian menarik seputar Andrea Hirata – pengarang tetralogi Laskar Pelangi yang luar biasa itu. Ada satu kata yang menarik darinya bahwa pembaca tak saja menikmati tulisannya, namun coba membaca dirinya. Maka muncullah kisah personalnya dengan seorang wanita. Kasihan juga membayangkan Andrea jika harus sibuk dengan media gosip. Sungguh pelajaran pentingnya buatku adalah kesiapan menerima kejadian macam ini, terutama ketika Anda sukses. Semakin tinggi, terpaan angin makin kuat. Aku belum tahu sikapku jika berada dalam posisi Andrea. Barangkali, kesiapan mengakui dan menerima kekurangan diri sendiri, termasuk kesalahan masa lalu adalah salah satu yang harus kita kembangkan. Bukankah tak ada makhluk yang sempurna ? Repotnya, kalau kesiapan dan kerelaan kita mengakui kesalahan masa lalu ternyata harus berhadapan dengan pihak yang hendak memanfaatkan alias mengambil keuntungan dari kekurangan kita itu. Memaafkan versus memanfaatkan !
(XI)
Bagaimana perasaan Anda ketika tulisan Anda tak dibaca orang ? Tanda bahwa tulisan tak dibaca misalnya tak ada komentar dari target pasar Anda. Orang bijak mungkin akan mengingatkan kita agar tak usah risau oleh hal macam itu. Yang lain mungkin akan berkilah ” tergantung pada apa tujuan Anda menulis”. Maka beruntung kalau kita mampu menjaga sikap dan semangat : yang penting nulis buat diri sendiri. Benar, kalau spirit itu bisa dijaga maka kita memang tak perlu terlalu pusing oleh reaksi dan respon orang-orang di luar sana. Lha wong mungkin dengan menulis itu sendiri kita sejatinya sudah berhasil menghargai diri sendiri, menghibur diri sendiri dan menyembuhkan diri sendiri. Kalau sudah berhasil menghibur diri sendiri maka tak perlu kita bersusah menunggu penghargaan dari orang di luar sana. Jadi penulis egois mungkin jadi pilihan menarik !
(XII)
Ada yang mengeluhkan moralitas seseorang. Tak sedikit di antara kita yang membincangkan moralitas orang lain. Sayangnya alasannya bukan karena moralitas itu sendiri. Aku bahkan pernah menangkap bahwa alasannya kembali ke soal ekonomi, iri, dengki, sinis, nyinyir. Sayang !
Wednesday, January 5, 2009

Nice Article, Bro Adjie.
Greetings from Surabaya,
Wuryanano
wah tfs mas Adjie…
dapet bahan renungan pagi2
mantab! makasih
hmm, gaya menulis mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat yah mas adjie:D
salam,
fety
Iya Mbak, dari pada hilang tak berbekas. coba saya rekam singkat dulu. dan akan jadi bahan renungan lebih dalam nantinya