Paling tidak sejak satu minggu sebelumnya, saya membaca dan mendengar bahwa mulai jam 13.00 tanggal 31 Desember 2008, pihak berwenang akan menutup jalur menuju kawasana Puncak Jawa Barat. Bahkan pagi tadi, melalui siaran radio saya juga mendengar bahwa bahkan sejak pagi jalur tersebut mulai padat.
Tidak perlu saya ulas banyak soal mengapa terjadi pergerakan macam di atas. Tak usah saya tegaskan lagi betapa kawasan Puncak memang masih terus menjadi primadona bagi banyak kalangan yang hendak santai sejenak. Ditambah lagi dengan musim liburan sekolah, maka eksodus warga kota semakin memuncak menuju sejumlah tempat wisata di sana. Tak sedikit juga yang sekedar hendak bermalam, menyewa villa lalu menyiapkan pesta barbeque.
Kabar di atas adalah salah satu di antara banyak dinamika di akhir tahun 2008 ini. Barangkali ini adalah hal biasa, karena pada tahun-tahun sebelumnya fenomena macam ini adalah juga sebuah kewajaran.
Sebuah kewajaran sebagaimana wajarnya beragam cara masyarakat menyongsong tahun baru. Dan jangan khawatir, tidak hanya kalangan berpunya yang bisa menikmati dan menciptakan kegembiraan. Kalau kaum berduit bisa ke Puncak atau ke luar negeri, maka rakyat kecil warga Jakarta bisa pergi ke tempat-tempat yang siap menawarkan hiburan murah. Wong ndeso pun saya yakini juga tak kehabisan hiburan. Saya percaya di banyak alun-alun kota akan dirancang banyak pesta menyongsong pergantian tahun.
Ada apa dengan semua ini ?
Dalam pandangan saya, ini semua bisa jadi mengerucut ke satu hal yang mungkin senada : pesta dan bersenang-senang ! Itu paling tidak yang bisa saya tangkap. Walau kemudian kita juga bisa melontar tanya lebih lanjut : bersenang-senang atas apa ?
Pada saat yang sama ada juga tanya lain yang bisa kita ungkap atas hal tersebut : Sebenarnya kita ini menjadi heboh karena hendak meninggalkan tahun yang lama atau riang gembira menyongsong tahun yang baru ?!!
Kalau kita gembira meninggalkan masa lalu, lalu apa makna di belakangnya ? Kita meraih banyak sukses di tahun lalu, sehingga puas di ujungnya ? Atau justru tahun lalu penuh kegagalan sehingga kita ingin segera melupakannya ?
Sementara kalau kita sumringah menyongsong tahun baru, ada apa pula di depan sana ? Apakah karena kita sudah tahu gambar suka cita di muka sana ? Bisa juga karena rencana-rencana baru sudah kita rancang agar membantu kita berubah menjadi lebih baik ? Atau pokoknya kita sekedar mengejar sensasi kebaruan sesaat saja ?
Atau jangan-jangan, kita hanya sedang butuh kesempatan, sebuah momen untuk sebuah katarsis sosial ? Sebuah usaha untuk melepas ketegangan dan tekanan emosi kita. Sebuah katarsis, sebuah ekspresi atas ketertindasan, kegagalan, kekalahan, luka yang untungnya bisa dilakukan secara berjamaah dan legal !
