Can you guess who said this?
“You’ll never find a better sparring partner than adversity.”
Saya memilih untuk lebih focus pada pernyataan di atas ketimbang pertanyaannya. Lebih penting bicara isinya ketimbang mencari tahu siapa yang bicara hal itu bukan ? Sejalan dengan hal itu, saya masih yakin bahwa pernyataan di atas sesungguhnya akan tetap relevan buat Anda sekalipun. Itulah mengapa saya memerlukan untuk menuliskan coretannya di sini. Kalau ada di antara Anda yang merasa tak butuh pesan itu lagi, juga ndak apa-apa. Yang pasti, saya masih jenis orang yang perlu untuk diingatkan terus.
Lalu apa sih maksud pernyataan di atas ?
Buat saya sederhana saja pernyataannya : kawan berlatih terbaik kita adalah kesulitan. Sayangnya, setelah saya pikir-pikir ternyata implikasi dan aplikasinya tidak semudah memaknai kalimatnya. Ada kebenaran di sana, yang sayangnya justru menjadi kebenaran yang pahit untuk dinikmati.
Sederhananya, siapa sih yang mau menemui kesulitan ? Semua kita ingin mudah dan lurus saja perjalanan hidupnya. Saya juga nggak mau dipersulit. Kalau bisa, saya cari akal agar bisa mengakali sesuatu yang rumit. Kalau perlu saya akan cari jalan pintas untuk menghindari kesulitan. Sama seperti ketika saya merelakan diri membayar uang jasa agar urusan administrasi saya di sebuah lembaga berjalan lancar. Pendek kata saya pengen mudahnya, dan ogah menghadapi yang susah-susah
Nah, di tengah kesadaran seperti itu justru saya dapatkan pesan di atas !
Sambil mencoba memutar, merubah dan mempengaruhi kesadaran saya, perlahan coba saya urai manfaat yang bisa didapat dari kesulitan yang kita temui. Sama seperti ketika saya dikerjai oleh lawan di lapangan bulutangkis, begitu juga kiranya sensasi menghadapi kesulitan.
Kegetiran dikalahkan lawan tak jauh beda dari getirnya kegagalan yang muncul dari kesulitan yang tak terkelola. Pontang-pantingnya saya di lapangan mungkin mirip dengan kehebohan saat saya harus mengelola kesulitan. Keringat yang membasahi tubuh saya mungkin sama asinnya dengan keringat yang keluar saat kita coba keluar dari kesulitan.
Kabar gembiranya, selepas kekalahan di lapangan saya jadi tahu sebatas apa kemampuan saya. Saya jadi sadar seberapa tajam smash saya, seberapa kuat lob saya, seberapa cerdik saya menempatkan bola. Pesannya kemudian, saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki diri agar pada pertandingan berikut saya bisa melakukan revance !
Ini analogi yang sederhana saja. Namun untuk sampai pada pesan pembelajaran macam ini, saya pikir kita perlu satu modal tambahan : membungkus pengalaman hidup susah dengan kemasan semangat pembelajar yang berpikir positif dan mental yang kuat.
Kalau Anda bermental tahu, maka sekali mendapat kesulitan, pasti sudah malas dan malah putus asa.
Nah, Anda termasuk yang bermental apa ?
Cimanggis – 24 Dec 2008
