Merayakan Tahun Baru : Merayakan Impian-Impian Baru by ADJIE
“ Ke mana Lo malam tahun baru ?”, tanyaku pada seorang kawan melalui telepon. Ia sedang ada di Bandung, menemani tantenya yang lama hidup sendiri.
“ Gak kemana-mana lah. Paling di rumah aja. Bandung sekarang dah beda. Dah kehilangan jati diri. Dulu mah banyak pohon, sekarang penuh factory outlet. Payah. Tapi kalau soal udara, emang sih masih asyik. Buat tidur !”, kawanku nyerocos panjang lebar.
Pembicaraan kemudian menyoal rencana-rencana kami di tahun 2007, yang sebentar lagi menyapa.
“ Iya nih, kita gak sempet-sempet ya untuk duduk bareng, ngerancang sesuatu yang konkrit”, katanya. Ada nuansa penyesalan di sana
“ Gak apa-apalah. Memang belum pas aja waktunya”, kataku menghibur.
Walau secara emosional aku merasa dekat dengan kawan satu ini, namun belum ada hal besar yang aku garap bersamanya. Beberapa projek memang sempat kami jalankan dan sukses. Namun hanya projek kecil, insidentil, jangka pendek. Memang pernah ada satu masa di mana kami berkeinginan membuat perusahaan yang menggarap bidang pelatihan-pengembangan. Rupanya ’style’ kami berdua lebih senang menjadi supporter membuat impian itu masih sebatas khayalan.
Karenanya, ketika siang tadi pembicaraan menyinggung rencana-rencana ke depan, kami seakan masuk ke dalam gelombang yang sama. Ada antusiasme yang hadir, membuat pembicaraan berlangsung hangat.
Setelah hampir lima belas menit bertukar kata, pembicaraan aku akhiri. Setelah itu, pikiranku berlarian. Teringat beberapa hal yang memang sudah aku rencanakan, aku jadikan target untuk tahun 2007. Beberapa target telah aku susun saat ulang tahunku beberapa bulan lalu. Namun tampaknya harus ada sejumlah revisi.
Dalam catatan harian aku menulis : “Kayaknya aku harus melihat dan merevisi ulang target tahun depan. Target personal maupun kantor. Target kantor bahkan belum sama sekali aku set. Target personal sudah aku set saat ulang tahun kemarin, tapi harus aku revise lagi supaya lebih komprehensif. Komprehensif harus diupayakan, agar balance. Aku khawatir ada banyak sisi kehidupanku yang belum tersentuh. Aku share juga hal ini ke Ilen yang lagi di Bandung. Target besar salah satunya adalah berkenaan dengan keluarga“
Benar, memang ada beberapa hal yang harus aku revisi. Salah satunya karena ada satu target yang hanya dalam waktu dua bulan nyaris terwujud semuanya. Jadi aku harus ubah lagi, set yang baru, yang lebih tinggi.
“ Bener lo, kalau sudah tercapai semua, kita bisa garing. Jadi gak bergairah lagi, karena gak ada lagi yang mau dikejar. Akhirnya males-malesan deh’’, kataku pada kawan di atas.
Jujur saja, aku makin mempercayai arti penting menuliskan apa impian kita. Entah mekanisme apa yang terjadi, dengan menuliskan impian dan target tersebut, lalu bergerak melakukan sesuatu, aku merasa banyak pintu terbuka, memberi jalan, memudahkanku.
‘’ Hahahahaa…………… khan memang bukan kita yang ngatur Djie ‘’, komentar kawanku di seberang sana saat aku sampaikan fenomena kecil yang aku alami.
‘’ Bener, seperti apa kata Lo. Tapi kita khan tetap harus berusaha. Kalau gak ada effort dari kita mah, ya nggak akan ada apa-apa khan ?”, aku menyetujui bahwa ada tangan Sang Maha Kuasa yang pasti ikut bermain. Namun usaha kitalah yang mengawali.
Berbekal pengalaman kecil tentang menuliskan impian, aku mengagendakan secara khusus waktu untuk merevisi dan menambah banyak rencana tahun depan. Tahun lalu aku hanya mendapatkan sekitar tujuh puluh persen dari targetku. Sayangnya, target yang aku rancang jumlahnya hanya belasan.
Jadi kalau tahun depan aku dan Anda merancang lima puluh target, lalu yang tercapai hanya tujuh puluh persen saja, maka itu artinya sekitar tiga puluh lima target bisa terwujud. Hmmmmm, lalu bagaimana kalau Anda kemudian merancang seratus target ? Wah pasti luar biasa bukan ?
Jadi, Let’s start with what you want, then move !
** Selamat Tahun Baru 2007 untuk semua Sahabat dan Para Guru
Cimanggis – Friday – 29 December 2006
