PARKIR by ADJIE
Jarum pendek jam di tanganku hampir berada tepat di angka lima, berarti sebentar lagi aku bisa bebas keluar ruang dan pulang. “ Halo Bos. Adjie nih. Gue dah mau bergerak dari kantor. Jadi kita ketemuan di Citos (Cilandak Town Square) ya sore ini ?. Konfirmasi aja. Memastikan”.
“ Busyet deh, jangan sekarang Djie. Tar kan kita ketemuannya jam setengah tujuhan. Tar Loe kecepetan sampenya”, suara di seberang sana membalas.
“ Gak pa pa lah. Lagian gue khan gak berani ngebut kalau bawa mobil. Pokoknya sekitar jam setengah tujuh ya ?”, kataku menegaskan. Gagang telepon aku letakkan kembali pada tempatnya. “Benar juga kata kawanku satu ini. Kalau aku berangkat tepat jam lima, mungkin sekali aku terlalu cepat sampai. Ada baiknya aku berangkat nanti saja”, aku membatin.
Akhirnya aku beranjak dari ruang kerjaku jam lima lewat tiga puluh menit. Gerobak Jepang aku panaskan sebentar, lalu bergerak ke arah sebuah pusat perbelanjaan dekat kantor, untuk ambil uang di ATM. Tak lama, singgah ke stasiun pengisian BBM, pesan premium seratus ribu, lalu aku menyusuri jalan tol Jagorawi. Dari arah Cibubur lengang saja. Aku juga tak memacu gerobakku terlampau cepat. Aku lari sekitar tujuh puluh kilometer per jam di gigi empat.
Keluar tol Jagorawi, mobil aku belokkan ke arah tol TB Simatupang. Bayar tol di cek point sebelum terminal Kampung Rambutan, kembali aku menyusuri jalan beton itu. Tak lama, sekitar jam enam lewat, saat Adzan Maghrib berkumandang, aku sampai di pintu parkir depan Citos. “ Ah pas Maghrib. Parkir dan langsung sholat. Lalu bertemu rekan di tempat yang belum kami sepakati”, pikirku berencana.
Usai mengambil kartu parkir dan membuka pintu mobil untuk diperiksa petugas keamanan, gerobakku langsung terjebak kepadatan. Aku pikir hanya macet karena berebut keluar dari pintu pengambilan tikert parkir. Ternyata tidak. Pengunjung teramat padat. Tak tahu aku ada acara apa. Atau jangan-jangan memang biasa seperti ini ? Aku memang jarang ke Citos pulang kantor. Apapun alasannya, kepadatan sore itu membuatku sedikit heran.
Mobil merayap teramat pelan, bahkan lebih sering berhenti karena antrean teramat panjang dan padat. Ku susuri jalur yang ku pilih tanpa alasan, hanya berharap ini pilihan jitu untuk dapat tempat parkir dengan cepat. Jarum jam merayap terus, aku khawatir tertinggal sholat Maghrib.
Lima belas menit berlalu. Aku masih berputar-putar memasuki gedung parkir. Tak ada tempat kosong, mobil tersendat. Telepon berdering : “ Djie, Loe dah dimana ?. Gue dah sampe nih. Mau ketemuan dimana ?“
“ Terserah Elo deh. Ngopi asyik juga. Gue masih muter cari parkiran nih“, aku membayangkan santai di ’Starbucks’. Hmmm, asyik juga memilih jenis kopi yang tidak terlalu berat, pakai es, dingin, mantap.
“ OK deh, tar gue telepon lagi“
Jam tujuh malam kurang lima belas menit lagi. Waktu Maghrib semakin tipis. Aku belum juga dapat parkiran, bahkan setelah melalui jalur yang sama untuk ke dua kalinya.
“ Dah dapat parkir ?“, suara dari hand-phoneku. “Gue jadi kepengen makan nih. Lapar juga“
“ Ya udah terserah Eloe deh. On your call. Gue ikut aja. Bete juga gue nih. Belum dapet parkir juga”
“ Di belakang Djie, deket lapangan tenis. Di situ kosong. Gue parkir di situ“
« Ya, gue dah ke sana. Yang deket tempat steak itu khan ?. Gue mikir hal yang sama. Ternyata penuh juga“. Aku tak bisa menyembunyikan kesalku. Panik juga memikirkan waktu sholat yang nyaris habis.
“ Ya udah tar kontakan lagi ya“, katanya.
Aku melihat ada sedikit ruang kosong untuk parkir. Memang ada tanda larangan parkir di sana, namun aku tidak melihat alasan yang tepat untuk larangan itu. Ku buka jendela mobil, ku sapa petugas parkir yang sedang berdiri putus asa melihat ratusan mobil meraung, berjejal kesal tak dapat tempat parkir.“ Mas di situ boleh gak ?“, tanyaku sambil menunjuk tempat yang kumaksud.
Sambil ’ngeloyor’ pergi menjauh ia berujar, “ gak bisa Pak. Jangan“
“Please help me………. !“, jengkel aku. Namun aku tak punya kenekadan khusus untuk memaksa diri memarkir mobil di tempat yang dilarang itu. Sempat aku sesali ketakutanku itu. “Kalaupun aku nekad, paling pengendara yang lain akan ikutan. Dan tidak ketahuan siapa yang duluan jadi pelopor nekad parker di area yang dilarang itu”, pikirku. Tapi itu hanya sebatas lintasan di pikiranku saja.
Sempat aku hentikan mobil, melintang pararel di jalur padat. Rem tangan aku lepas netral. Jadi kalau ada yang keluar masuk, mobilku bisa didorong-dorong. Tapi banyak sopir yang berdiri di sana meneriaki aku, melarangku parkir di tempat itu. “ Kalau mau parkir begitu, jangan ditinggalin mobilnya Pak. Gak ada yang dorong. Cari tempat lain saja.“
Sempat aku melotot, tapi apa yang mereka sampaikan ada benarnya. Tak ada petugas parkir di sana. Pasti para sopir ini yang akan sibuk kalau ada yang parkir dalam posisi pararel melintang. Sedikit malu, aku kembali masuk mobil. Aku nyalakan mesin, mundur sedikit hendak berbelok ke kanan dan menjauh. Saat mundur itu ternyata ada mobil yang akan keluar dari area parkir. Pas rupanya. Tak lama, aku dapat tempat parkir.
Kenyataan mendapatkan area parkir itu tak lantas membuatku senang alang kepalang. Kepadatan yang luar biasa membuatku sulit mengendalikan mobil. Tipis sekali ruang tersisa untuk bisa parkir mundur secara mulus. Untung para sopir — yang tadi meneriaki aku — membantu. Mereka mendorong beberapa mobil agar mobilku punya area cukup luas untuk ’atret’, atur posisi mundur yang pas. Beberapa memberi aba-aba : “ Banting kiri Pak. Banting habis. Pelan-pelan. Hoooopp !! . Yaa terus, terus, terus. Siiiip“. Mobil masuk di area dengan mulus. Keringat mengucur di tubuh, tegang dan lega jadi satu. “ Terima kasih Pak“, sapaku pada banyak sopir yang membantu.
Jam hampir pukul tujuh malam. Melompati beberapa area tergenang air, aku bergegas menuju tempat sholat, tepat dekat tangga naik menuju area utama di atas. Suara musik berdegum keras, bersaing dengan lantunan beberapa jamaah yang tergopoh mengejar waktu Maghrib yang semoga masih ada.
Aku selamat, paling tidak ini versi bawah sadarku. “Toh adzan Isya belum berkumandang, jadi gak apa-apa sholat Maghrib. Masih bisalah“, bawah sadarku beralasan, mungkin sekedar menyelamatkan egoku.
Usai Maghrib yang tergesa itu, aku tercenung. Terputar lagi kehebohan mendapatkan tempat parkir. Hanya parkir di sebuah pusat belanja. Demi janji untuk sebuah urusan kecil saja. “Gila ya manusia itu“, pikirku dalam hati. Sadar atau tidak, kami menyediakan diri untuk berdesakan, antri panjang, berjejal hanya untuk mendapatkan tempat parkir. Setelah dapat tempatpun, prosesi memarkir mobil secara pas dan mulus pun tidak selalu mudah. Sekali lagi hanya untuk sebuah tempat parkir, untuk sebuah janji bercengkerama.
Malamnya, usai semua urusan di Citos, aku tak bisa langsung tidur. Banyak sekali ide dan lintasan pikiran. Hingga jam satu lebih dua puluh dini hari, mataku masih membelalak. Tak bisa kupejam, bahkan setelah bermacam posisi aku coba. Tetap saja.
Solusinya, ku ambil kertas dan pena. Ku tulis banyak hal. Gagasan kasar, tapi lumayan, bisa jadi modal untuk bahan renungan lebih dalam. Tentang prosesi parkir di Citos, aku terpikir bahwa mungkin aku masuk kategori manusia gila yang aku sebut di atas tadi. Betapa tidak, untuk urusan manusia, urusan dunia yang mungkin teramat kecil , sederhana dan fana itu, aku rela berjejal, menahan kesal, antri mencari tempat parkir. Sementara untuk urusan akhirat, urusan surga, untuk janji Allah yang pasti, usahaku —- aku takutkan —- belum sekeras itu. Ahhhhh………………… ternyata aku.
Cimanggis – Thursday – 28 December 2006
