JOURNAL WRITING for Your Learning Sustainability by ADJIE
Coretan ini adalah salah satu buah unek-unek dan apresiasiku atas banyak kejadian dan pengalaman yang pernah aku jalani. Terkait dengan pengalaman sebagai fasilitator program pengembangan pribadi, pernah pada satu titik aku bahkan nyaris tak mempercayai efektivitas program yang aku fasilitasi.
Cukup mengerikan, karena tentu akan berbahaya jika praktisi pengembangan SDM justru tak percaya pada programnya sendiri. Rasa tak percaya macam itu bisa sungguh-sungguh membuat program tak layak dipercaya.
Bayangkan skenario berikut. Kalau aku tak percaya pada apa yang aku akan sampaikan, maka bisa muncul sikap tak yakin. Ketidakyakinan sebagai hasil dari perasaan tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman itu muncul karena seakan ada beban harus memaksakan program yang aku pertanyakan kualitasnya. Perasaan tak nyaman seperti ketika Anda harus mengenakan pakaian yang tak anda suka. Kalau sudah tak nyaman dan tak percaya diri dengan produk atau jasa yang akan Anda jual, maka bisa dibayangkan seperti apa kualitas penyampaian materinya.
Bisa jadi Anda akan bingung dan tak tegas saat menjelaskan materi Anda, yang lalu membuat responden atau peserta jadi ikut tak menikmati program Anda. Kalau sudah begitu, maka jelas bahwa efektivitas program juga akan benar-benar meragukan. Kalau saat deliverynya saja tak mantap, apa yang diharapkan dari hasil akhirnya ?
Ketidak percayaan makin tinggi ketika banyak perjumpaan dengan kawan peserta pelatihan seakan mengantarku pada pertanyaan ulang tentang efektivitas program. Ini tak semata menyoroti efektivitas program-program yang pernah aku jalankan. Ini juga soal program-program dari trainer lain di luar sana.
Banyak peserta program pelatihan yang aku temui pada kenyataaannya sudah mengikuti banyak program pengembangan lain. bahkan tak sedikit yang pernah membayar trainer kelas mahal untuk bisa berguru dan hadir dalam seminar yang diadakan. Pertanyaannya kemudian : lalu apa lagi yang dicari peserta ? Ada masalah apa lagi, sehingga mendorong mereka mengikuti program sejenis berulangkali ?
Lagi-lagi tema yang diikuti adalah seputar isu generik yang sifatnya umum. Lagi-lagi soal motivasi, kepercayaan diri dan kepemimpinan. Itu saja yang diulang dengan perubahan dalam cara penyampaian dan make up semata. Esensi program kadang tak lari kemana-mana
Dalam peran sebagai pembelajar, peminat dan peserta program pengembangan pribadi, aku juga memiliki sejumlah catatan kritis. Inti gagasannya sama saja : aku mempersoalkan efektivitas program yang aku ikuti. Kalaupun ada program yang pernah aku nilai baik, maka pertanyaan berikutnya adalah soal efektivitas dalam konteks hasil akhir dan perubahan yang terjadi. Akarnya adalah menjawab pertanyaan sejauh mana program yang diikuti sungguh membawa perubahan ?
Kalau ada perubahan apakah bertahan lama ? Kalau ada kebiasaan baru, sungguhkah itu mengantar pada penyelesaian masalah yang jadi pendorong awal ? Kalau ada kebiasaan baru, haruskah program tertentu sebagai satu-satunya solusi ? Jangan-jangan kita memang amat berlebihan. Untuk perkara yang sederhana kadang kita mengeluarkan biaya amat besar. Hal yang biasa saja kadang menjadi hal besar, yang bisa jadi karena dihembus-hembuskan oleh penyelenggara.
Mungkin masalah kita sederhana saja. Namun sayang, untuk menyelesaikannya kita butuh usaha luar biasa. Mungkin kekurangan kita adalah soal menghilangkan rasa gatal saja. Namun sayang kita melakukan operasi mahal untuk sekedar membuang tahi lalat. Entah ini ironi atau tragedi ? Memandang dari dua sisi dan peran itu, dari sisi peserta dan fasilitator, yang kemudian mengantarku untuk keluar dengan gagasan tentang journal writing.
Ini bukan gagasan khas karya pribadi. Ini gagasan lama, yang lama berkembang di negara lain. Di Indonesia mungkin sudah ada sebagian orang yang melakukannya. Namun aku duga belum banyak yang memanfaatkannya lebih jauh. Sebatas yang aku pahami, orang masih banyak yang berhenti di tataran melakukan recording, merekam kejadian yang lewat. Ia menjadi diary atau buku harian biasa.
Sementara itu, journaling menawarkan manfaat lebih dari itu dan inilah daya tariknya, yang sayangnya belum didukung oleh sebuah gelombang masif yang mendorong orang untuk menggarap tema ini. Tak berhenti sebatas terpesona dengan gagasannya, aku juga memanfaatkan dalam konteks keseharian. Sejauh ini hasilnya menggembirakan. Salah satu yang aku nikmati adalah memanfaatkan journal writing untuk mendapatkan keseimbangan, itu aku rasakan amat efektif
Di tingkat permukaan, aku secara cepat bisa memetakan area mana dari hidupku yang kurang banyak disentuh. Dengan melihat tema dari tulisan-tulisanku, maka dengan cepat aku mendapatkan umpan balik tentang ketidak seimbangan yang terjadi. Di tingkat lebih dalam, tulisan yang aku tuangkan sungguh bisa menjadi bahan renungan tentang kualitas hidup yang aku nikmati. Aku bisa belajar sejauh mana aku puas terhadap perjalanan karirku. Aku bisa berkaca sejauh mana aku berhutang pada komunitasku. Aku juga bisa sedih dan menyesali kesalahan yang aku perbuat.
Journal writing juga bermanfaat untuk mengelola emosiku, yang sejauh ini juga memberi dampak yang lebih dari cukup. Seperti diary yang kadang menjadi kawan paling bisa dipercaya, begitu juga saat menuliskan uneg-uneg dan keluh kesahku. Kita memang butuh orang lain yang bisa memahami kita. kita butuh ember yang mampu menampung luapan emosi. Paling sedikit kita butuh sosok yang mau mendengar tanpa berkomentar. Dan untuk peran yang terakhir inilah journal book kita bisa membantu
Dengan journal writing, ada kesadaran yang meninggi dan meluas. Aku merasa lebih peka, pertama-tama terhadap respon dan reaksi diri sendiri. Menuliskan kesan, persepsi, pemaknaan kita melalui journal writing seperti mengajak kita membuat jarak dari pengalaman. Kita seakan tengah menulis kisah orang lain. yang lalu kita juga diminta membaca kisah yang seakan adalah kisah orang lain. Menjaga jarak saat membaca kisah kita itulah yang kemudian membuka pintu lebih lebar untuk munculnya telaah, komentar lebih lanjut atau sekedar apresiasi kecil. Kita seakan masuk ke gelombang yang mendorong kita untuk memikirkan apa yang kita pikirkan. Thinking about our thinking.
Kita juga didorong untuk menganalisis tindakan dan ucapan yang pernah ada, yang lalu menjadi semacam alarm pengingat. pernah terpukul karena bersikap kasar pada anakku, sungguh membuatku lebih hati-hati sebelum bertindak. Ada rem yang sekarang sering menahanku untuk bertindak gegabah. Aku makin tersadar akan apa yang akan aku lakukan, termasuk memikirkan konsekuensi tindakan dan ucapanku. Belajar membayangkan konsekuensi tindakanku terhadap orang lain perlahan mengasah empatiku.
Dahsyatnya empati itulah yang kemudian juga mendorongku untuk belajar memahami dan lebih peka terhadap sikap dan tindakan orang lain. Kalau pada bagian awal, empati lebih terpusat pada reaksi orang lain, maka pada bagian berikutnya empati lebih terkait dengan pemaklumanku atas tindakan orang lain. Aku memang tak perlu menuntut orang lain memaklumiku. Aku juga tak hendak memaksa orang lain untuk peka terhadap perasaan dan pikiranku.
Lebih utama di sini adalah aku yang memulai memahami alasan dibalik satu tindakan dan ucapan orang lain. Guyonan gaya Gus Dur jadi menarik dijadikan contoh. Saat melihat orang lain berperilaku aneh dan dianggap tidak sesuai kaidah normatif, dengan ringan kita bisa memaklumi dengan berpikir. ” Ya, memang bisanya baru segitu. Ya sudah”. Atau seperti ucapan seorang kawan, ”Ya, memang bisanya Cuma itu, ya mau diapain ?”
Mungkin tersirat nada pasrah dan terpaksa. Namun gaya macam ini akan membantu kita untuk tak terlalu menganggap hal macam itu sebagai perkara besar. Tak perlu dimasukan ke dalam hati, begitu kata banyak orang. Santai saja, itu pesan lain yang hendak disampaikan
Hal menarik lain adalah bahwa mengungkap gagasan melalui journal writing mengantarku lebih mampu mengatur pola berpikir. Pola ungkap di atas kertas journal sungguh menjadi cermin bagaimana aku mengungkap gagasan. Itu semua menjadi cermin tentang sejauh mana kita mampu berpikir sistematis. Pada saat lain kita bisa menganalisa seperti apa alur berpikir kita. Kita bisa mengevaluasi sudahkan pola pikir dan pola ungkap kita sistematis dan runtut.
Coretan tentang seputar journal writing ini, sekali lagi, adalah buah bacaan dan pengalaman. Sangat mungkin ada gagasan yang kurang tajam, sebagaimana sangat mungkin ada ide yang belum terungkap. Yang tertampil dan terbaca di sini adalah sejauh yang aku mampu angkat dan ungkap. Jadi, masih terbuka masukan dan pengembangan lebih jauh, baik dari aku pribadi maupun Anda yang sempat membaca coretan ini.
Yang pasti, uraian singkat di atas bisa menegaskan bahwa journal writing bisa menjadi alat alternatif untuk menjaga kesinambungan belajar yang kita jalankan. Kita jadi disadarkan bahwa tak harus keluar biaya tinggi untuk terus belajar. Cukup siapkan waktu untuk menulis (dalam agenda atau di komputer), lalu mulailah mengurai pengalaman sekaligus belajar darinya.
Menuliskan kisah dan apresiasi harian mengajarkan kita untuk belajar dari banyak kejadian yang bahkan amat sederhana. Suatu saat Anda akan makin memahami bahwa menangkap pesan penting, bahkan kadang besar, dari kejadian-kejadian sederhana sesungguhnya adalah perjalanan yang akan makin menguatkan kesadaran kita. Coba saja !
Cimanggis- Thursday – 16 Aug 07Last Revision 6 sep -07
