UNLEASH THE CURIOSITY : Enjoy Learning in the School of Life*
Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak tiga tahun ke atas pasti pernah mengalami kejadian di mana anak-anak jadi pewawancara ulung. Ya, aku dan istri sempat terkejut dan sempat sedikit lelah menghadapi anak-anak yang tiba-tiba jadi sangat agresif dalam mengajukan pertanyaan. Mungkin kami kesal karena tak mampu menjawab semua pertanyaan mereka. Benar, memang ada jenis pertanyaan yang kami sendiri sulit menjawab dan menjelaskannya. Kalau pertanyaannya mereka mengandung atau berawalan kata “APA”, “DIMANA” atau “KAPAN”, maka mudah saja bagi orang tua memberi jawaban.
Pertanyaan dengan awalan di atas lebih konkrit jawabannya dan tak membutuhkan pemikiran lebih dalam. Jawaban atas pertanyaan jenis itu seringkali sifatnya historical. Paling sedikit sudah ada faktanya. “ Kue ini terbuat dari apa ?” , “ kapan kita jalan-jalan lagi ?” atau “ Di mana belinya es krim ini ?” adalah jenis pertanyaan yang sederhana saja.
Kalau mereka makin cerdas, paling jauh yang mereka tanyakan masih bisa kita pahami dan siasati jawabannya. Pada tingkat ini yang dibutuhkan lebih sebuah keterbukaan orang tua untuk juga meng-upgrade diri mereka agar tak kuper, ketinggalan jaman dan kalah informasi. Bagi kami, yang paling merepotkan adalah ketika pertanyaan anak-anak mulai berawalan kata “MENGAPA”. Ini jenis pertanyaan yang kadang butuh analisa lebih jauh. Dan ketika jawaban Anda menggunakan analisa orang dewasa, maka saat itu kebingungan mereka akan bertambah.
Ketika kebingungan mereka bertambah, rasa ingin tahu mereka pun terekspresikan dalam pertanyaan lain, yang juga berawalan “ MENGAPA” atau “KENAPA”
“ Ayah mau kemana ?”
“ Kerja”
“ Kenapa kerja ?”
“ Khan biar punya uang untuk beli pakaian dan buku Kakak “
“ Tapi koq Bunda di rumah ?”
“ Iya, soalnya Bunda libur “
“ Kenapa libur ?”
“ Iya, soalnya kantornya kan beda. Di tempat ayah, sekarang masih masuk”
“ Kenapa beda Ayah ?”. Nah pertanyaan ini kalau dilanjutkan akan menjadi semacam pukulan upper cut yang menghantam rahang, dan Anda hanya bisa bertahan menahan gempuran macam ini.
Kalau verbalisasi Anda canggih, maka paling tidak Anda masih bisa menyisakan respon terakhir sekedar menjawab, yang bisa jadi sangat tidak memuaskan mereka.
“ Ya beda aja , Kak. Khan enggak sama aturan di kantornya”
Itu baru satu episode. Masih ada momen lain dimana kami gelagapan menghadapi serbuan pertanyaan jenis itu. Karena sering terjadi, suatu ketika saya dan istri sempat saling menatap, tertawa geli dan bingung
“ Gile ye, semuanya ditanya paka kata kenapa !” Pada satu sisi kami senang karena anak-anak memperlihat keingin tahuan yang tinggi. Dan kalau sepaham dengan banyak ahli, komunikasi dengan cara ini sebenarnya jadi salah satu media untuk saling dekat dan menjaga kehangatan hubungan dengan anak-anak. Namun ngeri juga kalau kemudian respons kami tak tuntas. Bukan kami takut dianggap bodoh, namun lebih khawatir tak mampu melunasi dahaga dan memuaskan keingin tahuan mereka. Jelas, ada adu cepat antara kami yang harus terus meningkatkan kemampuan komunikasi dengan rasa penasaran mereka yang terus berkembang.
Lepas dari kecemasan kami di atas, pada satu titik kesadaran saya sepakat bahwa salah satu tugas kami adalah memang menjawab pertanyaan-pertanyaan besar anak-anak kami. Jelas ini hal besar. Buat mereka pertanyaan di atas barangkali sekedar refleks atas keingin tahuan mereka. Namun buat kami, jelas bahwa itu adalah ekspresi besar yang harus kami jaga agar tetap tumbuh dan berkembang. Benar, beragam pertanyaan anak-anak suatu saat akan menjadi modal mereka dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan mereka di masa datang. Jadi usaha kita menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka pada dasarnya akan membekali mereka dengan life skills, keterampilan-keterampilan yang akan membantu mereka untuk menjawab tantangan masa depan mereka.
Selaras dengan keinginan kami untuk menjawab pertanyaan anak-anak, saya makin disadarkan ketika membaca tulisan Al Siebert PhD dalam buku Resiliency Advantage, yang menegaskan bahwa anak-anak yang banyak mengajukan pertanyaan kadang justru tidak dihargai di sekolah. Bahkan tak ada penghargaan the best student bagi anak yang mengajukan banyak pertanyaan. Padahal , asking good questions is far more useful skill in today’s world than knowing answers that someone taught you. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot jauh lebih bermanfaat ketimbang memiliki jawaban-jawaban yang hanya disodorkan oleh orang lain.
Kita juga harus sadar bahwa dengan bertanyalah anak-anak belajar tentang dunia mereka. Anak-anak yang cerdas dan aktif akan terus mengajukan pertanyaan. Rasa ingin tahu anak-anak adalah sesuatu yang sifatnya terlahir. Curiosity is inborn and is not something that has to be taught. Rasa ingin tahu bukan sesuatu yang diajarkan, begitu masih kata Siebert.
Manusia memang dilahirkan dengan kebutuhan untuk belajar bagaimana cara bertahan di dunia. Manusia memang dilahirkan tidak dalam cetakan yang kaku. Dengan fleksibilitas yang ada manusia justru memiliki potensi dan mampu mengembangkan sisi kreatifnya. Daya cipta manusia bisa terus bertumbuh sehingga memungkinkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan tantangan kehidupan mereka.
Dorongan untuk mampu mengelola kehidupan mereka menuntun manusia pada banyak pilihan. Manusia memilki kemampuan untuk memilih tempat yang aman bagi mereka selaras dengan kemampuan manusia untuk menciptakan lingkungan yang aman itu sendiri. Berbekal rasa ingin tahu yang ada, anak-anak yang sehat sangat menyukai tantangan dan mereka menjadikan hari-hari mereka sebagai kesempatan untuk mengungkap dan mengeksplorasi dunia mereka yang amat menantang.
Dan sejalan dengan berkembangnya kemampuan bicara mereka, maka mulailah mereka belajar untuk bertanya. As children learn to talk, their curiosity is expressed in questions. Asking “ Why….?” , goes on and on. Sebagaimana diungkap sedikit di atas, dengan bertanyalah anak-anak belajar tentang diri dan lingkungan mereka, lalu mengembangkan kompetensi untuk hidup secara efektif dalam lingkungannya.
Rapid Reality Reading
Curiosity adalah hal penting dalam pengembangan resiliency. Alasan sederhanannya : jika kita hendak melakukan interaksi yang efektif dengan lingkungan baru, otak Anda harus dengan cepat memahami apa yang terjadi dalam lingkungan Anda. Resiliency meningkat saat Anda bisa dengan cepat memahami hal-hal baru dalam lingkungan. Sebaliknya, jika kita tak dengan cepat mengantisipasi realita yang mungkin terjadi maka resiliency akan menurun. Rasa ingin tahu bisa dipandang sebagai keterbukaan otak yang tidak mendistorsi informasi yang masuk. Otak yang terbuka tidak mendasari diri pada asumsi dan keyakinan tertentu dalam mengolah informasi. Informasi di terima dan masuk apa adanya.
Ini memang konsep yang butuh elaborasi lebih dalam, karena ia menyangkut juga konsep map (peta mental) dan realita itu sendiri. The map is not the territory, begitu ujar kawan-kawan penggiat NLP. Orang-orang dengan kemampuan yang baik dalam mengenali dan memahami realita akan mampu menyesuaikan diri dengan baik dalam lingkungan mereka.
Sebaliknya, orang-orang yang persepsinya terdistorsi akan sulit menyesuaikan diri dan bertahan di lingkungan mereka. Orang-orang yang tertutup (with closed mind) tidak mau mendengarkan komentar dan masukan yang isinya adalah hal-hal yang tidak mereka sukai. Banyak contoh memperlihatkan akibat buruk macam ini. Banyak tokoh yang karena tak mendengar umpan balik dan masukan akhirnya justru terjungkal dan gagal.
Saya sepakat pada pandangan yang menyamakan peran umpan balik seperti peran sebuah sekering (fuse) dalam jalur listrik rumah kita. Sekering yang terbakar dan minta diganti memang menjengkelkan. Tapi itu adalah tanda bahwa ada yang salah. Sekali kita tak peduli maka yang terbakar bisa jadi adalah rumah kita, bukan hanya sekering yang murah harganya itu !
Rasa ingin tahu membuat Anda mampu membaca realitas baru secara cepat. Ini termasuk kemampuan kita untuk memahami situasi kritis yang ada, juga mengenali apa-apa yang dipikirkan , dirasakan dan dilakukan orang lain. Dan kemampuan untuk memperoleh informasi secara cepat macam inilah yang dikenali juga sebagai bentuk high speed learning.
| Saat Anda dihantam kesulitan yang tidak Anda inginkan, ambillah kertas dan tulis sejumlah pertanyaan · What are the important questions I should be asking ? – pertanyaan penting apa yang harus diajukan ? Mulailah mendaftar pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :· What is happening ? what is not happening ? – apa yang sesungguhnya terjadi ?· How serious is this ? – seberapa serius itu ?
· How much time do I have ? How little ? – berapa banyak waktu yang kita punya ?
· Must I do anything ? Nothing ? – haruskah saya melakukan sesuatu ?
· What are others doing ? Not doing ? Why not ? – apa yang dilakukan orang lain dalam keadaan ini ? – cari pembanding dan belajar dari orang lain ?
· Where do I fit in the scene ? · How are others reacting ? What are their feelings ? – apa reaksi orang lain dalam situasi ini ?
· How do I appear in their eyes ?
· What are others not noticing ?
Then search for answer as fast as you can. The more quickly you grasp the total reality of what is happening, the greater resiliency advantage you have. Curiosity links back to creative problem solving. Having lots of accurate information leads to creative, practical solutions to real life problems. |
The Fight for Your Mind
Tentang nasib curiosity di jaman sekarang ini , Al Siebert punya catatannya sendiri. Di banyak tempat, rasa ingin tahu, semangat dan cara belajar anak-anak nyatanya telah dianggap mengganggu bagi sebagian orang dewasa dan pendidik. Orang dewasa, orang tua dan guru kadang sudah punya agenda sendiri bagi anak-anaknya. Lalu hubungan yang terjalin lebih pada hubungan tuan dan majikan. Si anak dipaksa hanya boleh mengikuti apa yang dimaui. Lalu anak-anak mulai dilarang untuk banyak bertanya, dan dipaksa patuh hanya mempelajari apa yang akan dijelaskan oleh para orang dewasa.
Dalam kondisi demikian, cara belajar anak-anak jadi terlihat tidak selaras (incompatible) dengan pendekatan tradisional yang sayangnya masih banyak terjadi dalam lingkungan social kita. Paulo Freire memang pernah menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan mempertahankan nilai-nilai, identitas dan keyakinan dengan cara mengajarkannya pada anak-anak.
Hingga kini, masyarakat mendidik generasi mendatang dengan cara menjelaskan apa saja yang harus dipikirkan, dilakukan dan diyakini oleh anak-anak.They tell them what to think, feel and believe. Lebih repot lagi kalau kemudian pendekatannya semata telling and yelling !
Pendekatan ini pada akhirnya menjadikan anak sebagai pribadi yang pasif, yang hanya menerima saja semua kebijakan dari sang guru. Semakin banyak guru mencekoki anak, maka si guru dianggap semakin baik. Semakin siswa pasrah dan mau menampung ceramah sang guru, maka semakin baiklah mereka. Kalau murid mau diterima oleh guru maka mereka harus bekerja sama dan mau menyesuaikan diri dengan cara dan gaya macam itu. Kalau pendekatan macam itu tak berhasil, maka muridlah yang akan disalahkan.
Sayangnya, pendekatan macam ini justru yang masih banyak berkembang dan diterapkan dalam system pendidikan kita. Anak-anak yang tidak bersedia pasif menerima coleteh guru bisa jadi justru mendapat label bermasalah atau mengalami gangguan perhatian (attention deficit disorder), dan karenanya harus diobati atau diterapi
Freire melihat bahwa pendekatan belajar macam ini memang mematikan kreativitas anak-anak. Pendekatan ini jelas berlawanan dengan pendekatan yang hendak mendorong siswa untuk menjelajah dunia yang terus menerus berubah. Sejatinya, pendekatan yang banyak mengangkat persoalan dan membebaskan pertanyaan-pertanyaan dari si muridlah yang akan membantu siswa untuk memahami realitas dunia mereka. Semakin masyarakat dan kebudayaan mengajarkan serta mendesakan cara mereka, maka semakin menjerumuskan anak-anak pada tingkatan tidak berpikir (at the level of unthinking).
Konsekuensinya, warga masyarakat jenis ini akan kurang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru yang ada.
The Secret of Achieving High Level Resiliency
Cara untuk menjadi pribadi yang resilient bukanlah sesuatu yang rahasia dan aneh. The most resilient people are like children who never grew up. A curious, playful spirit contributes directly to resiliency because playfulness and asking question let you learn your way out of difficult circumstances. Saat berhadapan dengan kesulitan, respons yang mencerminkan tingginya resiliency biasanya akan diawali dengan pertanyaan-pertanyaan sbb :
- What is amusing about this ? – apa yang menarik dari kejadian ini ?
- What am I learning that did not know before ? – apa yang bisa saya pelajari dari sini ?
- How does this look from a different point of view ? – seperti apa tampaknya jika dilihat dari sudut pandang berbeda ?
- What would happen if I turned it upside down or inside out ? – apa yang terjadi jika dilakukan perubahan ?
“Laughing is an excellent sign that valuable real life learning is occurring. An insight can be delightful discovery and it can stay with you a long time” Jika kita mampu memandang situasi berat dengan sudut pandang dan mind set “bermain”, maka kita bisa terhindar dari rasa tertekan. Dengan bermain, kita bisa tersenyum bahkan saat menghadapi situasi berat. Kadang senyum bahkan menjadi tanda bahwa kita tengah belajar sesuatu.
Benefits of Curious, Playful Questioning
Pembelajaran di sekolah kehidupan akan mengarahkan individu untuk menjadi makin cerdik, lebih baik, lebih adaptif terhadap perubahan dan lebih tangguh dari tahun ke tahun. Kemampuan kita belajar dari pengalaman akan membantu kita untuk belajar menghubungkan banyak data dan kejadian. Jika dalam beberapa situasi sulit, Anda berhasil menemukan sesuatu yang mengundang senyum, maka itu bisa jadi tanda bahwa Anda memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik saat menghadapi situasi apapun.
Jika kita mampu mengembangkan curiosity kita, maka kita akan dapat :
· Secara cepat menemukan cara kreatif untuk menangani masalah yang ada
· Menangani perubahan tanpa merasa lelah
· Belajar dari pengalaman buruk sekalipun
· Mempelajarai cara baru untuk bekerja dan memberikan layanan
· Mengembangkan rasa percaya diri
· Menghindari rasa cemas saat ada perubahan
· Lebih baik saat menghadapi kendala atau tantangan
· Menjadi diri sendiri
Learning : The Key to Mastering Change
Introductory psychology text books define learning as “ a change in behavior that results from experience” This means that change and learning are inseparable ; they define each other. The key to mastering change is to manage your learning
(*Salah satu Apresiasi terhadap karya AL Siebert – The Resiliency Advantage )
