(Prolog)
MIND MUNCHIES. Munchies : snacks or small items of food. Saya teringat ucapan seorang ahli yang menyebut mind munchies. Munchies adalah makanan kecil alias snack alias penganan yang beraneka. Jadi saya bayangkan dalam satu kantong ada macam-macam di sana. Makanan ringan dengan banyak jenis dan bentuknya. Nah coretan yang ini mungkin bisa disetarakan dengan makanan ringan macam itu. Isinya macam-macam dan pendek-pendek saja. Bedanya, yang ini makanan ringan buat otak kita. Selamat menikmati mind munchies.
Tuesday, January 13, 2009
(PERLAWANAN)
Seorang karyawan kecil tak mau mengajukan surat pengunduran diri. “ Silahkan PHK saya saja, Pak !”, katanya. Sungguh sebuah perlawanan orang kecil, namun sejatinya bukan usaha kecil. Ini sebuah gerakan bermakna. Dan asal tahu saja, dengan cara seperti ini uang pisah yang akan ia dapat mungkin jauh lebih besar. Boleh juga, apa pun motifnya !
(SAMPAI KAPAN)
Sampai kapan saya akan menulis ? Ini pertanyaan besar malam ini. Saya tak tahu, walau satu bagian diri saya bertekad terus menulis. Saya tak tahu, karena pertanyaan macam ini akan kembali muncul di lain hari.
(LATAH 2)
Saya coba memahami perilaku sekedar berbeda itu sebagai bentuk upaya manusia dalam menegaskan keberadaannya. Semua kita mungkin punya dorongan instingtif untuk dikenal. Agar dikenal harus ada bekas jejak ditinggalkan, walau bentuknya tak harus sesuatu yang baru.
(LATAH)
Saya pernah malu melihat kelakuan sebagian dari kita, terutama contoh dari orang ternama. Tak sedikit yang sibuk membuat sesuatu yang mereka pikir sebagai hal baru. Padahal sejatinya hanya sekedar ganti kulit. Itu dulu saat saya belum merasakan pergaulan di perusahaan asing. Kini setelah ikut mencicipi atmosfir mereka, nyatanya sama saja. Tak jarang sekedar ganti baju, tanpa perubahan esensial. Itu dilakukan atas nama menegaskan eksistensi. Sebuah eksistensi tanpa esensi. Saya tak perlu malu lagi jadi orang Indonesia, walau tak harus setuju pada pendekatan di atas
(KABUR)
Belakangan saya makin dikaburkan oleh banyak pandangan di sekitar saya. Buat saya makin banyak orang tidak mampu membedakan antara hal yang prinsip dan ruang fleksibilitas. Pendek kata semua ingin dibuat fleksibel hingga bisa menghapus yang prinsip !
(SIAP LAGI)
Begitu banyaknya perubahan, begitu cepatnya kita dilempar dari satu keadaan ke keadaan lain mengirim sinyal soal kesiapan kita. Seberapa siap saya dan Anda menghadapi perubahan yang mengejutkan ? Melihat dan membaca banyak karyawan dan kawan kena PHK, saya kecut membayangkan hal ini. Kerja besar masih banyak !
(PHK)
Kepada pada ahli bahasa, penulis, kritikus sastra, saya hanya ingin mengingatkan bahwa PHK alias pemutusan hubungan kerja sudah punya banyak kata penggantinya lho, semisal : pengunduran diri, alasan pribadi, berkarir di tempat lain, ingin usaha sendiri dan akan menyusul kata lainnya.
(BAWAHAN)
Kalau mengingat bahwa atasan seakan punya banyak kekuasaan tak berbatas, kadang saya kasihan pada bawahan. Banyak bawahan kadang merasa tak berdaya. ”Anda jadi atasan, makanya Anda bisa ngomong apa saja”, begitu mungkin salah satu yang dipikirkan oleh bawahan. Namun benarkah bawahan begitu tak punya daya ?
(ATASAN)
Jadi atasan kadang berarti harus punya keberanian menyakiti anak buah. Atasa mungkin bisa berlindung di balik atasannya lagi atau aturan perusahaan. Namun tetap saja, ketika orang lain kecewa dan sakit hati, maka buat saya itu berarti kesiapan atasan untuk menyakiti bawahan. Anda mungkin berpikir tentang kata lain yang lebih halus ?
(LOW PROFILE)
Ada banyak nasihat aku dengar belakangan ini. Salah satunya adalah anjuran untuk tidak terlalu low profile. ”Anda harus lebih berani tampil, dan jangan hanya ada behind the screen aja !”, begitu salah satu masukan untuk saya. Hmmm, sebuah pesan yang terus saya olah dan hayati. Soal bagaimana keputusan dan tindakan saya berikutnya, lihat saja nanti
(JELAS)
Kalau Anda melihat bahwa X berbuat tidak bijak pada Y, ada baiknya Anda melakukan paling tidak dua hal. Terhadap X tegaskan ketidak setujuan dan umpan balik Anda. Terhadap Y, tegaskan posisi Anda terhadap tindakan X.
(TEGA)
Ada sejumlah peran yang kadang memaksa seseorang, Anda atau saya untuk melakukan tindakan yang di mata banyak orang terbilang tidak berperikemanusiaan. Anda bisa saja dituduh terlalu tega melakukan sesuatu. Bahkan ketika diukur dengan sudut pandang umum, bisa teramat jelas bahwa Anda memang benar-benar “tegaan”. Pada saat yang lain ada sebuah kekuatan, yang bisa jadi bernama “kebijakan”, yang harus Anda jalankan. Siapkah Anda untuk jadi “tega” ?
(SMALL GOOD)
Saya pikir, setiap kita tentu memliki banyak kesempatan / godaan untuk melakukan perbuatan yang bisa masuk kategori “grey area”. Mungkin saja hal ini tidak masuk dalam kategori dosa. Namun, kita memang perlu sebuah keberanian menetapkan standar bagi diri sendiri, lalu bertahan terus melakukan perbuatan kecil sebanyak mungkin. Dan itu adalah sebuah latihan agar kita semakin kuat menghadapi godaan yang lebih besar.
(KEJUTAN)
Sampai dua hari lalu, saya dan dia masih tertawa. Kami ada liburan bersama. Hari ini saya dapat kabar tak mengenakan. Sangat wajar jika ia kecewa, marah di tengah keterkejutannya. Jeda satu hari bisa membawa banyak perbedaan. Ini jadi kesempatan baik untuk saya mempertanyakan kesiapan saya akan perubahan yang demikian besar. Harus ada program khusus menguatkan satu jenis syaraf yang berhubungan dengan kemampuan menghadapi keterkejutan.
(INFLASI)
Inflasi jadi kata biasa dalam terminologi ekonomi. Ia mengait pada turunnya daya beli, turunnya nilai uang kita. Bagaimana dengan perspektif psikologis ? Saya pikir inflasi juga bisa menimpa kemampuan kita menghadapi situasi hari ini. Saya harus mengkaji kembali seberapa kuat daya jual psikologis saya, seberapa kuat kompetensi saya dalam menghadapi kenyataan hari ini. Jangan sampai inflasi mengenai NILAI kita.
Thursday, January 08, 2009
(LAYAK)
Mungkin karena kita sering menjadi korban atas tindakan tidak adil orang lain, kadang kita lalu merasa berhak untuk berlaku tidak adil pada orang lain. Perlu keberanian untuk memutus rantai ini. Otherwise, dunia makin tak nyaman untuk ditinggali
(KORBAN)
Saya menduga sangat banyak di antara kita yang masih bersembunyi dalam cangkang bernama ketakutan. Bahkan ketika banyak ilmu sudah dalam kepala, tetap saja kita takut menggunakannya. Akhirnya semua seakan tersia dan tak berguna. Akhirnya kita terus menjadi korban gilasan keseharian. Kita perlu terus berlatih mengasah keterampilan dan bukan berhenti di perluasan pengetahuan. Kadang masih lebar jarak antara yang kita tahu dan yang kita mampu lakukan.
Wednesday, January 07, 2009
(HERAN LAGI)
Kalau mengingat kesalahan dan kekonyolan yang ada di sekitar, kadang saya terheran betapa kita begitu mudah mengasingkan diri ke dalam dunia sendiri. Maksudnya : kita sering seenak sendiri, sering semau sendiri bahkan lupa sendiri pada banyak ocehan dan ceramah kebenaran yang meluncur dari mulut sendiri.
(HERAN ?)
Heran, masih saja ada kolega yang tega mempermalukan orang lain. Heran, masih ada kenalan yang tega membuat orang lain tersudut. Saya menyayangkan itu, apapun alasannya. Bahkan terhadap orang yang memang bersalah. Lebih sayang lagi, saya diam saja melihat itu semua
(YES)
Selalu menggetarkan saat sadar betapa ada orang-orang yang berhasil sukses berbekal sesuatu yang awalnya dianggap tidak cukup untuk bisa sukses. Ada yang berpikir pendidikan adalah yang utama, maka banyak yang salah kaprah terlalu focus pada ijazah dan sertifikat. Sayangnya ijazah dan sertifikat seringkali tidak membantu. Seorang kawan menyebut kemampuan mengucapkan “yes”, sebagai salah satu modal sukses itu. Yes sir, I will find what can I do to solve this problem. Bedanya dengan “yes-man” ?
(KONSEPSI – 2)
Sama seperti daftar makanan di sebuah resto terkenal. Begitu juga dengan buku yang kita baca. Saya percaya, satu buku berisi tawaran. Barisan kata, kalimat, kiat dan tips di dalamnya adalah semesta pilihan. Tak semuanya mungkin kita ambil dan jalankan. Ini juga adalah sebuah pesan bagi penulis. Menulis sebanyak mungkin agar semakin banyak yang diambil orang lain. Menulis sebaik mungkin agar semakin sering seorang pembaca mengangguk setuju. Tapi penulis jangan lantas menjadi gede rese, karena nyatanya banyak pembaca yang mengangguk, lalu diam tak melakukan apa-apa.
(KONSEPSI)
Kalau Anda ditanya kesan Anda terhadap sebuah resto, apa yang sesungguhnya ada dalam benak ? Kalau Anda menyebut sebuah resto itu oke atau makanannya enak, apakah kemudian artinya semua makanannya enak ? Ambil contoh Anda makan Tom Yam. Apakah kuahnya, udang, cumi-cumi , ikannya dan semuanya enak. Jangan-jangan ada saja satu dua yang tak enak. Seperti pengalaman saya yang kecewa membayar mahal satu mangkuk Tom Yam yang jauh dari yang saya bayangkan. Saya belajar soal generalisasi. Menyederhanakan permasalahan, menyamaratakan tak selalu membantu !
(RUTE)
Saya tak tahu banyak soal pendakian gunung. Namun saya tersadar pentingnya rute lama bagi pendaki. Menapaki jalan yang sudah pernah dilalui hampir pasti akan membawa pendaki pada puncak yang jadi tujuan. Orang lama, orang yang berpengalaman sudah meninggalkan jejak sukses mereka. Mengikuti jejak macam itu, kemungkinan besar akan mengantar kita pada sukses yang pernah dirasakan oleh pendahulu. Selain sudah terbukti, rute lama juga menawarkan sebuah pendekatan yang bisa jadi lebih terarah. Ini peringatan buat saya yang kadang masih sering ngeyel, keras kepala !
(PILIH MANA ?)
Saya salah seorang yang kadang lupa membedakan pemanfaatan konsep cocok dan manfaat. Kalau saya tak banyak kemajuan, jangan-jangan soalnya karena saya lebih mementingkan kenyamanan hari ini. Lalu saya berkilah bahwa sebuah pendekatan tak cocok buat saya. Padahal sejatinya lebih karena saya malas dan takut menghadapi sesuatu yang baru. Atas nama kenyamanan dan kecocokan saya melupakan efektivitas. Yang nyaman dan cocok buat saya belum tentu efektif mengantar saya pada apa yang saya mau.
(TERHUBUNG)
Mungkin kita perlu lebih sadar bahwa banyak hal memang terhubung erat. Tak saja bisa dipahami pada tataran spiritual, pernyataan ini juga bisa dilihat dari kaca mata praktis pragmatis. Menggeser satu ujung sebuah tongkat akan menggoyang ujung lainnya. Begitu juga dengan kebiasaan. Dorongan merubah sebuah kebiasaan bisa berarti kesediaan merubah kebiasaan lainnya. Keinginan Anda untuk tak impulsive terpancing belanja karena tawaran discount di mall, bisa berarti kesediaan Anda untuk merubah kebiasaan bersantai di pusat perbelanjaan.
***
Monday, January 5, 2009
(Prolog)
MIND MUNCHIES. Munchies : snacks or small items of food. Saya teringat ucapan seorang ahli yang menyebut mind munchies. Munchies adalah makanan kecil alias snack alias penganan yang beraneka. Jadi saya bayangkan dalam satu kantong ada macam-macam di sana. Makanan ringan dengan banyak jenis dan bentuknya. Nah coretan yang ini mungkin bisa disetarakan dengan makanan ringan macam itu. Isinya macam-macam dan pendek-pendek saja. Bedanya, yang ini makanan ringan buat otak kita. Selamat menikmati mind munchies.
(I)
Pagi tadi, saat subuh di masjid, aku sempat terkejut ketika sang imam membaca qunut. Biasanya tak ada qunut di subuh kami. Aku mungkin tak khusuk karena tergoda mencari tahu sebab perubahan ini. Dengan cepat aku menemukan alasannya : Palestina. Ya benar Palestina. Dan benar saja, dalam qunutnya ada doa khusus untuk saudara di Palestina. Aku tak sadar, bayangan apa yang menyelinap masuk dan hadir di hadapanku. Aku terpejam. Tak sadar air mata menggenang.
(II)
Pada akhirnya ukuran sebenarnya adalah pencapaian. Masih soal menulis dan manfaatnya. Masih terkait manfaat menulis dalam kehidupan, khususnya saat dihubungkan dengan pencapaian kita. Aku sering risau, khawatir hanya bisa bicara. Banyak menulis adalah banyak bicara juga. Lalu ngeri saat sadar tak banyak yang aku capai. Tantanganku adalah memperbanyak menulis dan menjadi pelaku bagi banyak pencapaian. Walau memang banyak menulis bisa menjadi salah satu pencapaian yang aku ingin kejar
(III)
Selamat Tahun Baru. Dua-duanya ya Pak, Hijriah dan Masehi. Begitu kata sebagian kawan sekantor yang mampir ke ruanganku. Aktivitas pagi ini diwarnai oleh silaturahmi kecil saling memberi selamat. Jelas, aku pasti menjawab, membalas ucapan selamat itu. Membalas dengan ucapan senada. Tapi ada Tanya tersisa : SELAMAT untuk apa ya ? Jawabannya bisa beragam. Atau sangat mungkin tak ada yang tahu alasan detilnya. Semoga bukan sekedar ucapan selamat dan ikut gembira karena sudah bertemu 2009. Semoga lebih dari itu, semoga kita semua selamat menjalani 2009, selamat dan sukses atas kinerja di 2009, selamat dan bahagia atas raihan di 2009. Amien
(IV)
Tak ada salahnya menyalahkan diri sendiri. Walau mungkin banyak ahli menyalahkan cara ini. Aku harus berani menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab dari banyak kesalahan dan kegagalan di hari lalu. Ini makin relevan ketika 2009 baru mulai. Aku menyalahkan diri ku yang jadi penyebab kegagalan. Namun aku juga pemaaf, aku maafkan semua kesalahanku, sambil bertekad memperbaiki diri tak mengulang kesalahan 2008. Aku salahkan diriku, lalu memaafkan dan cari siasat untuk lebih baik, berubah menjadi lebih baik untuk hasil lebih baik.
(V)
Kita sering lupa bahwa ada banyak peran melekat dalam diri kita. Di kantor, selain sebagai karyawan, kadang kita sekaligus sebagai atasan, sebagai leader. Dengan demikian tindakan kita sudah semestinya mempertimbangkan berbagai peran itu. Contoh lain : Sebagai manusia biasa, pramugari juga punya rasa takut saat ada masalah di udara. Namun peran nya sebagai pramugari harus juga menenangkan penumpang, sambil tentu mencari solusi menyelesaikan masalah. Tak patut rasanya jika kemudian pramugari menjadi yang paling heboh dan panik
(VI)
Kadang, busuk dalam hati masih saja belum bisa dibuang jauh. Kotoran dalam jiwa kadang masih butuh waktu panjang untuk dibuang hilang. Salah satu yang mungkin masih muncul adalah nyinyir atas prestasi orang lain. Anda bisa jadi menganggap karya besar orang lain adalah hal sederhana. ”Ah kalau Cuma begitu saja, saya juga bisa !” ; ” Di mana hebatnya karya itu ?!”. Itu sebagian contoh ekspresi dengki kita. Walau hanya membatin dan tak terucap, namun tak terelakan itu adalah gambar betapa kita belum bersih hati. Bertambah konyol karena ternyata kita lebih sering memilih nyinyir, iri dan dengki ketimbang berkarya. Kalau memang gampang dan mudah buat kita mana bukti karya kita ?. Ah, aku mungkin masih salah satu dari jenis orang macam itu
(VII)
Kemarahan memang bisa menutup banyak pintu, termasuk pintu penghargaan. Kemarahan saya pada seseorang bisa membuat saya menutup pintu apresiasi saya pada prestasinya. Kemarahan saya pada menutup pintu, bahkan pintu kemajuan diri saya. Karena saya tak ikhlas memberi apresiasi, saya bisa buta atas kelebihan orang lain, yang sebenarnya bisa jadi sumber belajar dan pengembangan diri saya. Kemarahan menutup banyak pintu, dan memang membutakan
(VIII)
Jika ada kawan Anda yang sering berujar negatif, nyinyir dan sinis, layak kiranya Anda bertanya lebih jauh. Ada apa gerangan ? Apa yang membuatnya sedemikian negatif ? Bahkan semua seakan buruk di matanya. Ingin pada satu hari kelak aku bertanya pada kawan jenis ini : apa yang membuatnya sedemikian marah ? Ketika bicara kemarahan, aku duga ada kepentingan pribadinya yang tak terpuaskan. Karena tak mendapatkan hal positif, maka ia menumpahkan semua negatif ke semesta.
(IX)
Apakah sungguh inspirasi yang kita butuhkan ? Pertanyaan ini aku ajukan saat sadar bahwa sudah teramat banyak aku mengaku terinspirasi. Sudah terlalu sering aku menemukan dan menghayati sebuah pencerahan. Tak sedikit tulisan yang aku buat yang semoga meng-inspirasi kawan-kawan di luar sana. Tapi apakah benar, inspirasi yang sungguh kita butuhkan ? Barangkali ini ada hubungannya dengan pencapaian. Ukurannya adalah pencapaian, prestasi, kinerja, output. Kalau sekedar mendapatkan inspirasi, sudah penuh dunia ini dengan inspirasi. Inspirasi saja jelas tak cukup. Bahkan inspirasi tentang kiat dan langkah sukses dari tokoh yang kita anggap paling sukses sekalipun. Prestasi tak mendatangi kita. Kita yang harus bergerak, bertindak untuk mendekati sasaran itu. Jadi seusai terinspirasi mari ayunkan langkah dan berlari mengukir prestasi.
(X)
Fear of success. Ketakutan menjadi sukses. Kengerian akan konsekuensi atas keberhasilan kita. Ini konsep lama yang saya pahami saat ikutan berguru di kampus dulu. Belakangan saya teringat lagi terutama ketika mengaitkannya dengan kejadian menarik seputar Andrea Hirata – pengarang tetralogi Laskar Pelangi yang luar biasa itu. Ada satu kata yang menarik darinya bahwa pembaca tak saja menikmati tulisannya, namun coba membaca dirinya. Maka muncullah kisah personalnya dengan seorang wanita. Kasihan juga membayangkan Andrea jika harus sibuk dengan media gosip. Sungguh pelajaran pentingnya buatku adalah kesiapan menerima kejadian macam ini, terutama ketika Anda sukses. Semakin tinggi, terpaan angin makin kuat. Aku belum tahu sikapku jika berada dalam posisi Andrea. Barangkali, kesiapan mengakui dan menerima kekurangan diri sendiri, termasuk kesalahan masa lalu adalah salah satu yang harus kita kembangkan. Bukankah tak ada makhluk yang sempurna ? Repotnya, kalau kesiapan dan kerelaan kita mengakui kesalahan masa lalu ternyata harus berhadapan dengan pihak yang hendak memanfaatkan alias mengambil keuntungan dari kekurangan kita itu. Memaafkan versus memanfaatkan !
(XI)
Bagaimana perasaan Anda ketika tulisan Anda tak dibaca orang ? Tanda bahwa tulisan tak dibaca misalnya tak ada komentar dari target pasar Anda. Orang bijak mungkin akan mengingatkan kita agar tak usah risau oleh hal macam itu. Yang lain mungkin akan berkilah ” tergantung pada apa tujuan Anda menulis”. Maka beruntung kalau kita mampu menjaga sikap dan semangat : yang penting nulis buat diri sendiri. Benar, kalau spirit itu bisa dijaga maka kita memang tak perlu terlalu pusing oleh reaksi dan respon orang-orang di luar sana. Lha wong mungkin dengan menulis itu sendiri kita sejatinya sudah berhasil menghargai diri sendiri, menghibur diri sendiri dan menyembuhkan diri sendiri. Kalau sudah berhasil menghibur diri sendiri maka tak perlu kita bersusah menunggu penghargaan dari orang di luar sana. Menjadi penulis egois mungkin sebuah pilihan menarik !
(XII)
Ada yang mengeluhkan moralitas seseorang. Tak sedikit di antara kita yang membincangkan moralitas orang lain. Sayangnya alasannya bukan karena moralitas itu sendiri. Aku bahkan pernah menangkap bahwa alasannya kembali ke soal ekonomi, iri, dengki, sinis, nyinyir. Sayang !
Tuesday – January 6, 2009
(MASA LALU)
Mungkin benar kita masih sering merindukan masa lalu. Berjumpa dengan tempat lama, kawan lama dan kisah lama kadang memberi nuansa tersendiri. Itu pula yang mungkin jadi salah satu petunjuk bahwa sebagian kita lebih suka menjadi sama seperti hari ini. Dalam ungkapan lain, kita mungkin lebih nyaman tetap seperti sekarang dan enggan berubah !
(KERJA TRAUMA)
Memelihara trauma mungkin masih bermanfaat. Kisah menyesakkan bisa menjadi salah satu penggerak. Anda bisa dibuat heran oleh tindakan membabi buta luar biasa, yang ternyata digerakan oleh luka lama. Trauma Anda pada kemiskinan mungkin bisa membantu Anda untuk merubah nasib. Pengalaman lama bisa juga mendorong Anda berubah.
(ASERTIF)
Jagad interaksi kita dengan sesama sesungguhnya sedinamis warna-warni pendekatan pribadi. Setiap orang membawa masa lalu dan preferensinya.
Interaksi kemudian tak selalu mulus dan butuh ketrampilan tersendiri. Dalam kerangka ini, saya makin tersadar betapa kemampuan bertindak asertif menjadi salah satu yang penting. Bertanya dan bertindak tegas adalah pilihan di tangan. Bukan untuk menunjukkan siapa lebih kuasa, namun untuk membangun komunikasi yang nyambung dan efektif.
(MENDENGAR)
Pada beberapa konteks, kita justru harus peduli pada pandangan orang lain. Ini seakan berlawanan dengan pendapat bahwa kita hanya perlu mendengar dan memperhatikan pandangan kita. ” Jangan pedulikan omongan orang lain !”, itu yang sering kita dengar. Konteks dunia kerja mungkin bisa jadi salah satu contoh. Kalau Anda hanya sibuk dengan diri sendiri dan tak waspada, peduli atau cari tahu pendapat orang lain khususnya atasan Anda, maka Anda bisa jadi sasaran tembak bernamaa PHK. Menempatkan suara, kritikan, pandangan, bahkan sinisme orang lain dalam kerangka umpan balik mungkin jadi salah satu pilihan bijak
(STANDARD)
Kalau bicara pelayanan, kehebatan SQ alias Singapore Airlines seakan jadi contoh yang tak habis dibahas. Dalam bahasa dan istilah yang kadang tidak saya mengerti, pujian terhadap SQ tumpah ruah. Perlahan, dalam ketidak mengertian ada juga kerinduan untuk mencicipi kelasnya SQ. Sayangnya, perjalanan pulang pergi ke dan dari Negeri Gajah dengan SQ beberapa waktu lalu tidak menegaskan kehebatan maskapai ini. Buat saya semua biasa saja. Bahkan saya masih merasa lebih nyaman terbang dengan Garuda. Sampai hari ini saya masih bingung pada bagian mana kehebatan yang digembar-gemborkan itu. Atau………. Jangan-jangan karena saya naik yang kelas ekonomi ?
(HARAPAN)
Apa kata orang jelas bisa sangat berbeda dengan apa kata kita. Setiap kita lagi-lagi memang membawa peta mental sendiri, yang karenanya bisa punya sensasi berbeda walau mengalami hal yang sekilas tampak sama. Pola macam ini berimbas saat kita bicara mengelola harapan. Karena saya mengharapkan penerbangan penuh makanan, maka naik Air Asia yang dikenal murah tak akan memuaskan saya.
(JALAN SUKSES)
Perbedaan konteks dan harapan cenderung membuat kita membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Dalam perspektif keragaman dan perbedaan macam ini, sempatkah Anda mempertanyakan kiat sukses yang didapat dari para tokoh sukses ? Kalau para tokoh sukses mengungkap strategi mereka, maka saya duga itu berasal dari pengalaman mereka, yang kemudian bersinergi dengan kaca mata, persepsi, preferensi mereka sendiri. Jadi, jangan-jangan kiat sukses itu sangat personal sifatnya, yang kemudian hanya cocok untuk dia sendiri. Dengan begitu kiat tersebut belum tentu cocok bagi kita yang berada di luar konteks pengalaman si tokoh. Jadi, ciptakan dan cari kiat sukses kita sendiri.
(KEBENARAN PRIBADI)
Saat kawan Anda bicara pada Anda, maka sadari bahwa mungkin ia sedang memproklamirkan kebenaran versi dirinya. Jadi jangan pernah langsung melawannya, kecuali kalau Anda ingin berlama dalam diskusi panjang yang belum tentu Anda inginkan. Kebenaran yang ada di kepala kawan Anda belum tentu sama benarnya dengan perlawanan Anda. Bukankah perlawanan Anda adalah juga kebenaran versi Anda sendiri ? Sama saja seperti coretan saya ini, yang bisa jadi adalah orasi kebenaran versi saya pribadi !

