November 19, 2009 by resiliency
Saat diberi kesempatan bicara atau berbagi pada orang lain, saya sering mengingatkan diri sendiri untuk tak terjebak pada soal-soal ideal, yang faktanya tidak saya jalankan. Saya coba menahan diri untuk tak banyak bicara teori muluk yang belum saya buktikan. Maka pada beberapa kesempatan saya memilih untuk menghindar walau ditawari angka yang menarik. Dari pada ngomong doang, begitu pikir saya.
Atas cara pandang macam di atas, kadang saya berpikir lebih lanjut : apakah salah bicara yang ideal atau teori ? Apakah saya harus alergi bicara konsep yang manis di atas kertas ? Pertanyaan di atas bukan untuk meloloskan peluang saya mendapatkan projek jual teori
Pertanyaan di atas sungguh soal mencari esensi dan menemukan kebijaksanaan.
Pada satu titik, saya percaya bahwa mungkin kita ini sejatinya dipenuhi oleh dorongan menjadi lebih atau mendapat lebih. Kalau kemudian faktanya banyak dari kita yang belum menjadi atau mendapatkan lebih, mungkin ada pekerjaan rumah yang perlu kita eksplorasi bersama. Nah, dalam konteks ini teori dan konsep ideal tentu bisa menjadi pemacu dan pemicu semangat kita untuk mendapatkan dan menjadi lebih baik. Dalam kerangka ini konsepsi, teori ideal menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Jadi ada pilihan lain , yakni menjadikan hal ideal sebagai acuan kita bergerak. Bahwa kadang masih ada jarak antara kenyataan kita hari ini, maka pilihannya adalah menemukan dan menciptakan alternatif untuk makin dekat pada yang ideal itu. Jadi bicara yang ideal dan teoritis juga menawarkan sisi positif.
Sekarang apa pilihan Anda ?
Posted in Stretching | Leave a Comment »
November 19, 2009 by resiliency
" Mas Adjie sendiri betah juga ya di perusahaan sekarang", ujar seorang rekan. Lalu perbincangan singkat berkembang dari sana. Dari obrolan itu yang kemudian kentara sejatinya adalah dialog antar nilai. Mengapa demikian ?
Ya sejatinya saat kita bicara dan bertindak kadang itu langsung menggambarkan nilai yang tengah kita anut dan perjuangkan. Dalam konteks pekerjaan, seorang bertahan dan meninggalkan perusahaan pun adalah ekspresi nilai yang ia anut. Bukan satu-satunya aspek, namun nilai sering adalah cerminan kita sendiri.
Anda bertahan karena faktor gaji misalnya, bisa jadi itu adalah cermin bahwa kemapanan ekonomi jadi hal penting buat Anda. Di sisi lain Anda bertahan dengan gaji yang biasa saja, mungkin Anda tengah memperjuangkan nilai lain. Misalnya karena kantor dekat rumah yang berarti ada banyak waktu buat keluarga atau hal lain. " Gue kan gak mau juga hidup gue habis buat pekerjaan doang. Dah gak sehat nih. Bagaimana dengan keseimbangan hidup gue ?!", begitu teriak rekan lain di satu pagi
Tantangan pertama kita adalah menyadari nilai utama yang tengah kita pertahankan. Lalu mengkreasi sebanyak mungkin pilihan yang layak diperjuangkan dalam rangka memegang nilai tersebut. Beragam pilihan untuk memperjuangkan nilai mestinya tersedia di muka kita. Kalau belum tersedia, paling tidak ada ruang bagi kita untuk mencipta pilihan itu
Jadi pilih mulai dari mana ?
Posted in Stretching | Leave a Comment »
November 18, 2009 by resiliency
Anda sadar sedang bermain di liga mana ? Di liga kelas bawah atau premier league alias liga utama ?
Gagasan ini menggoda saya belakangan ini. Pencetusnya sederhana saja – belakangan terasa ada yang mengganggu. Bukan orang lain yang mengganggu saya – tapi suara dari lubuk hati yang mengingatkan saya. Rupanya ada dorongan untuk menyombongkan diri. Rupanya ada godaan untuk tinggi hati membangga-banggakan apa yang sudah saya buat. Ketika ini menguat saya jadi makin khawatir saya tengah masuk perangkap. Kesombongan membuat kita larut dalam kesenangan sesaat, merasa sudah mencapai puncak. Padahal sejatinya masih ada puncak lain yang harus di daki.
Maka belakangan ini saya intens melakukan introspeksi , khawatir jangan-jangan saya tergoda berpuas diri di liga kelas bawah. Padahal masih ada liga kelas atas alias liga primer yang menanti kiprah saya. Relevansinya bagi pekerja seperti saya : kalau perusahaan sekarang adalah liga kelas bawah, maka ada baiknya berupaya masuk ke lingkaran atas. Lingkaran atas tak harus berarti promosi. Bekerja di perusahaan dengan industri berbeda adalah tantangan kelas atas. Bergabung di perusahaan lebih besar dan ternama adalah mainan baru yang menantang.
Jadi ada di liga mana Anda sekarang ? Tampaknya ada banyak pilihan liga di luar sana.
Posted in Stretching | Leave a Comment »
November 18, 2009 by resiliency
"Jangan memandang hidup dengan keranka hitam putih saja", begitu nasihat orang bijak yang sering kita dengar – utamanya kala kita menganalisa sebuah kejadian yang mana di dalamnya seringkali banyak pertempuran atas nilai. Saya sering tergoda atas masukan ini. Bagaimana dengan Anda ?
Lalu bagaimana penilaian Anda dalam konteks pencapaian hidup kita. Tentang sukses di keseharian, apakah cara pandang di atas relevan ? Mari berbagi ide.
Buat saya, paling tidak sementara ini , dalam konteks prestasi mungkin hanya tersedia pilihan terbatas. Anda bisa makin bingung karena saya sering menyebut ada banya pilihan di depan kita. jangan salah tangkap. Pilihan di muka memang banyak, ketika kita bicar soal proses dan bagaimana mengejar prestasi. Sementara kala bicara hasil,, faktanya hanya ada dua kemungkinan hasil : gagal atau berhasil, sukses atau gagal etc.
Jadi, kala bicara hasil hidup jadi demikian sederhana. Pilihan jadi amat terbatas, dan bukan seperti menjawab soal essay dalam ujian sekolah. Pilihan kita adalah sukses atau gagal. That’s it ! Menyesal ? KEsal ?
Nah menjawab pertanyaan terakhir maka kini kita masuk ke konteks pilihan yang lebih beragam. Sadar bahwa hasil hanyalah hitam putih, berhasil atau sulses, maka tantangan kita justru pada menyikapi kemungkinan itu. Kita punya wilayah amat luas untuk mengatur dan mengintervensi kemungkinan hasil yang bisa kita raih. Karena sepakat bahwa sebagian besar kita ingin sukses, maka tantangan kita adalah bagaimana memperkaya, mengeksplorasi sebanyak mungkin pilihan yang bakal mengantar kita pada sukses.
Pilihan akan hasil amatlah terbatas. Sementara pilihan atas proses dan tindakan kita semoga teramat luas. Selamat memilih
Posted in Stretching | Leave a Comment »
November 17, 2009 by resiliency
Sekecil apapun, Anda pasti pernah mengalami "sukses". Dengan demikian Anda pasti pernah masuk dalam sebuah pola generik bernama "sukses". Lalu sudahkah Anda konsisten menjalani pola tersebut ? Apakah pola generik itu pernah Anda pakai dan terapkan dalam konteks dan pengalaman berbeda ?
Saya pikir ini menjadi tantangan besar kita semua. Benar, sering banyak di antara kita yang tidak konsisten menjalankan sebuah pola, bahkan pola bernama sukses. Menarik jika mendengar dan mengetahui betapa Anda berhasil menerapkan pola itu dalam realita lain di keseharian Anda. Makin menarik lagi ketika banyak ahli menegaskan bahwa pola sukses memang bisa diaplikasikan dalam bidang lain. Bahwa ada sebuah struktur bernama sukses yang bisa masuk dan relevan dalam banyak bidang kehidupan kita.
Kalau kita konsisten menjalani ini dan sepakat dengan banyak ahli pengembangan diri tersebut, maka seharusnya semakin banyak orang yang merasa sukses dalam hidupnya. Logika dasarnya, setiap kita pasti pernah mendapatkan sukses dalam ukuran kita masing-masing.
Sebagian dari kita bisa menolak asumsi yang dianut para ahli. Sebagian Anda juga boleh tak setuju, lalu meyakini bahwa sukses tak mudah diduplikasi. Adalah sebuah pilihan kalau kemudian sebagian dari kita amat meyakini bahwa mereka tak bisa sukses. Sayangnya, saya menduga keyakinan macam itu lebih banyak mudharatnya. Bayangkan saja penampilan orang yang tak yakin sukses. Bayangkan pola apa isi kepala orang yang pesimis. Ingat kembali bagaimana orang pesimis berinteraksi dan bertingkah laku. Dengan model terakhir ini, menurut ANda seberapa besar kemungkinan mereka meraih sukses ?
Jadi , sekali lagi ada pilihan buat ANda dan saya. Mau pilih pola yang mana ?
Posted in Stretching | Leave a Comment »
November 16, 2009 by resiliency
" Setiap habis ngobrol macam itu, seperti ada yang mengingatkan dari dalam hati. Menurut sampeyan, omongan aku itu masuk kategori bergunjing gak sih ?". Itu pertanyaan yang aku lontarkan pada seorang kawan – usai kami olah raga bersama. Tak lama menunggu , jawabannya jelas. Buat kawan satu ini jawabannya adalah "YA". Aku tak coba membela diri dan berkilah, karena bukankah pertanyaan awal ku adalah usaha untuk mendapatkan masukan orang lain. Jadi tak bermanfaat jika aku sudah menyiapkan alat bela diri. Aku juga sadar bahwa jawaban kawanku ini adalah perspektif pribadi yang subjektif. Namun, ada beberapa nilai yang aku yakini ia pegang. Jadi tak salah juga mendengarkan subjektivitas nya.
Pendek kata jawaban kawan ini menjadi titik awal lagi. Ia menjadi titik awal lagi buatku untuk tak mengumbar energi untuk ngobrol dan bicara hal tak berguna. Pada titik ini bisa muncul banyak pandangan. Namun aku coba saring dulu. Paling tidak, Tak berguna karena realitanya memang tak berubah. Usai bicara banyak toh tak ada perbaikan. Di luar sana tetap sama. Yang ada justru kadang emosiku yang meninggi dan ini tak produktif. Dari sisi spiritual yang aku yakini, dengan umbar bicara macam itu, aku justru menambah dosa. Kawan lain yang mendengar kadang memberi bumbu, dan kami semua justru menambah dosa.
Maka momen di atas menjadi titik awal untuk lebih bijak bertindak dan bicara. Kalau hendak memberi masukan, akan jauh lebih bermanfaat kalau aku bicara langsung. Kalau orang itu tak mau tahu, paling tidak aku sudah bicara. Kalau diamnya orang lain merugikan aku, aku perlu memindahkan pusat kontrol : alias jangan sampai happiness ku banyak dikontrol orang lain. Kalau tidak puas, mestinya ada pilihan berwarna di luar sana. Kalau mau tetap bersama, terima realita yang ada dan upayakan yang terbaik yang aku bisa. Mungkin itu yang terbaik pada titik ini. Pilihan sangat terbuka, mau pilih yang mana ?
Posted in Stretching | Leave a Comment »
November 13, 2009 by resiliency
Di televisi, dari media cetak dan media online kita kerap disuguhi kelucuan disamping kejutan-kejutan luar biasa. Pertengkaran, intrik antara beberapa orang dan atau lembaga terjadi di depan muka kita yang tahunya hanya sedikit. Maka ketika masing pihak membuka fakta atau membohongi kita, kita sang penonton hanya bisa kaget, senyum dan bingung.
Akarnya adalah betapa sulit menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya. Yang kita kunyah lebih banyak adalah kebenaran nisbi versi manusia biasa yang justru banyak salahnya.
Saya coba tinggalkan konteks di dunia sosial politik makro. saya tertarik mengingatkan diri saya dalam kerangka mikro keseharian dalam relasi kecil kehidupan saya. Benar, kebenaran tetap jadi isu. Takut berbuat salah kadang saya menghindar banyak bicara, walau ada banyak pihak yang mendorong untuk bicara apa adanya. Soalnya kemudian ucapan kita tak berhenti di ruang hampa dan steril. Pasti ada dampak atas apa yang kita ucapkan. Pelajaran pertama : saya harus lebih berhati-hati bicara.
Repotnya banyak pihak yang lupa diri, tutup mata dan telinga kala tak mendengar orang bicara. MEreka pikir semua aman dan tenteram. Padahal realitanya bicara sebeliknya. Ada banyak kegarangan bersembunyi. Banyak amarah di pojok pabrik yang terbungkus kertas tisu. Mudah robek dan terbakar. Maka beberapa dari kita perlahan memunguti keberanian yang sudah cerai berai. Kala keping tekad membulat utuh, langkah kecil diupayakan. Sekedar saling mengingatkan adalah niat baik yang tersisa.
Masalahnya lagi, ada banyak kebobrokan di muka, yang tak cukup dengan jerit kecil dari kaum lemah. Maka kemudian masukan berubah jadi olok-olok di tempat kami merokok. Dalam galau paling dalam, kadang aku teringat betapa orang besar yang salah besar juga adalah saudaraku. Pada titik itu, terang jalan dari Gusti Allah jadi obor yang moga menerangi jalan kebenaran sejati
Posted in Stretching | Leave a Comment »